SUMATERA SELATAN — Teheran, melalui kantor berita Fars yang mengutip sumber pejabat militer, melaporkan bahwa gelombang rudal dan drone berhasil menembus sistem pertahanan udara Sekutu di sejumlah titik strategis. Salah satu sasaran utama adalah Pangkalan Udara Al Azraq di Yordania, yang selama ini menjadi rumah bagi skuadron jet tempur siluman F-35 milik AS.
Pangkalan Armada ke-5 dan Kuwait Jadi Target
Selain Yordania, Iran juga menyerang Lanud Ali Al Salem di Kuwait dan Pangkalan Armada ke-5 Angkatan Laut AS di Bahrain. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyebut total ada 21 target di negara-negara Teluk yang menjadi sasaran operasi balasan ini.
Serangan ini dipicu oleh aksi militer AS yang lebih dulu menggempur posisi-posisi Iran di sekitar Selat Hormuz pada Rabu dini hari. Ketegangan di kawasan itu langsung memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur transit utama bagi sepertiga pasokan minyak global.
Trump Akui Balas Penembakan Helikopter
Dalam perkembangan terpisah, Presiden AS Donald Trump mengakui bahwa serangan terhadap Iran merupakan aksi balasan atas penembakan helikopter milik AS. Pengakuan ini muncul setelah sebelumnya ia sempat meremehkan insiden tersebut.
Belum ada konfirmasi resmi dari Pentagon mengenai tingkat kerusakan yang diderita pangkalan-pangkalan AS akibat serangan Iran. Namun, klaim Teheran yang menyebut 70 persen proyektil mengenai sasaran menjadi indikasi eskalasi serius di Timur Tengah.
Para analis memperingatkan bahwa konflik terbuka ini berpotensi mengganggu rantai pasok energi global dalam skala besar. Harga minyak mentah acuan Brent tercatat naik lebih dari 4 persen dalam perdagangan Rabu sore, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan dari kawasan Teluk.