Pencarian

Satgas PRR Temukan Sinkhole 85 Meter di Aceh Tengah, Arah Pergerakan Berubah ke Danau Laut Tawar

Senin, 15 Juni 2026 • 22:37:31 WIB
Satgas PRR Temukan Sinkhole 85 Meter di Aceh Tengah, Arah Pergerakan Berubah ke Danau Laut Tawar
Tim Satgas PRR melakukan investigasi sinkhole 85 meter di Aceh Tengah yang arah pergerakannya berubah ke Danau Laut Tawar.

SUMATERA SELATAN — Tim Satgas PRR bersama Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh dan PT Hutama Karya melakukan investigasi lapangan di dua titik kritis pascabencana hidrometeorologi di Aceh, Jumat (12/6). Selain sinkhole di Kampung Pondok Balek, perhatian juga difokuskan pada kawasan Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah yang rusak akibat longsor dan banjir bandang.

Berdasarkan laporan kegiatan satgas, struktur tanah di area sinkhole didominasi material bekas abu vulkanik dengan kandungan batuan yang sangat minim. "Kondisi tersebut membuat material bawah tanah lebih mudah terkikis, terutama saat curah hujan tinggi dan dipengaruhi aktivitas gempa," demikian dikutip dari laporan tertulis tim.

Perubahan Arah Sinkhole dan Ancaman ke Danau Laut Tawar

Tim mencatat adanya perubahan signifikan pada pola perkembangan sinkhole. Jika sebelumnya pelebaran cenderung mengarah ke hulu Sungai Peusangan, kini pergerakannya terpantau mengarah ke Danau Laut Tawar. Fenomena ini telah menyebabkan hilangnya lahan pertanian warga, amblesnya menara listrik, serta terputusnya akses jalan di sekitar lokasi.

Satgas PRR menekankan perlunya langkah mendesak untuk mencegah korban jiwa. Pemantauan harian, pembaruan rambu peringatan, serta pembatasan akses warga ke zona berbahaya menjadi prioritas utama dalam penanganan jangka pendek.

Jembatan Enang-Enang: Akses Vital yang Masih Berisiko Tinggi

Di kawasan Enang-Enang, kerusakan jalan dan jembatan dipicu longsoran tebing serta banjir bandang. Jalur Simpang Lancang yang menghubungkan Desa Alur Cuncin dan Desa Menderak sempat terputus total. Akses ini merupakan urat nadi transportasi yang menghubungkan wilayah Gayo dengan pesisir utara Aceh, sekaligus jalur distribusi hasil pertanian dan perkebunan.

Meski warga telah membuka akses secara swadaya sehingga kendaraan dapat melintas secara terbatas, BPJN Aceh mengingatkan bahwa jalur tersebut masih memiliki tingkat risiko tinggi. Kondisi tanah yang labil, medan curam, minim penerangan, serta kerusakan serius pada jembatan eksisting—termasuk fondasi yang patah dan miring—menjadi faktor utama yang perlu diwaspadai.

Solusi Jangka Panjang: Jembatan Shortcut pada 2027

Satgas PRR menilai penanganan di kawasan Enang-Enang harus dilakukan secara hati-hati dengan mengedepankan kajian teknis dan geologi. Menurut tim, pembukaan akses sementara saja tidak cukup tanpa memastikan keamanan jalur bagi masyarakat.

Koordinasi antara BPJN, Balai Wilayah Sungai (BWS), pemerintah daerah, dan instansi terkait terus diperkuat dalam penanganan jalan, jembatan, tebing, hingga aliran sungai di sekitar lokasi. Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah telah menyiapkan rencana pembangunan jembatan shortcut yang ditargetkan mulai dikerjakan pada 2027. Sementara menunggu pembangunan permanen, BPJN Aceh melalui Satuan Kerja Wilayah 3 melakukan pemeliharaan jalan alternatif guna menjaga konektivitas lintas tengah menuju Takengon.

Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks