SUMATERA SELATAN — Pakar energi Universitas Padjajaran (Unpad) Yayan Satyakti memproyeksikan kenaikan harga Pertamax tidak akan serta-merta membuat orang berhenti bepergian. Sebaliknya, sebagian besar pengguna akan beralih ke bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, Pertalite, yang harganya masih bertahan di Rp10.000 per liter.
"Belajar dari pengalaman April 2022, ketika Pertamax naik 39 persen dan sekitar satu dari delapan orang pembeli pindah ke Pertalite, kami perkirakan penjualan Pertamax turun sekitar 10 persen," ujar Yayan dalam paparannya.
Pertalite Jadi Pelarian, Tapi Kuota Dinilai Aman
Yayan membagi dampak kenaikan ini berdasarkan desil atau lapisan masyarakat. Kelompok Desil 1 atau termiskin disebut hampir tak terpengaruh karena memang tidak menggunakan Pertamax. Sementara itu, kelas menengah di Desil 5-7 diprediksi menjadi pihak yang paling mungkin pindah ke Pertalite.
Meski terjadi perpindahan massal, Yayan menilai kuota Pertalite masih cukup. Ia menyebut hanya sekitar sepertiga dari sisa kuota yang bakal terpakai oleh pengguna yang pindah. Hal ini sekaligus menjawab kekhawatiran akan kelangkaan BBM subsidi tersebut.
Pertamina Patra Niaga pun angkat bicara. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun memastikan Pertalite tidak akan langka dan distribusinya ke seluruh SPBU berjalan normal sesuai penugasan pemerintah. "Kami mengimbau masyarakat untuk bijak menggunakan energi," ujarnya.
Beban Terbesar di Pundak 20 Persen Orang Terkaya
Kelompok Desil 10 atau rumah tangga terkaya justru memikul beban paling berat. Sebab, armada perusahaan, kendaraan operasional perkebunan, dan tambang dilarang menggunakan BBM bersubsidi Pertalite. Mereka otomatis harus tetap membeli Pertamax dengan harga baru.
"Singkatnya, sekitar separuh dari total beban kenaikan ini ditanggung oleh 20 persen rumah tangga terkaya. Kenaikan Pertamax bekerja seperti pajak yang lebih banyak menyasar orang mampu," ucap Yayan.
Bagi pemilik mobil reguler di Desil 8-9 atau kelas menengah atas, dampaknya langsung terasa di dompet. Dengan asumsi konsumsi 100 liter per bulan, tambahan biaya mencapai Rp395 ribu. Sementara itu, pengendara motor yang mengonsumsi 30 liter sebulan harus mengeluarkan ekstra sekitar Rp119 ribu.
Selisih Harga Terlebar dalam Sejarah
Kenaikan Pertamax menjadi Rp16.250 per liter membuat jarak dengan Pertalite melebar hingga Rp6.250 per liter. Angka ini merupakan selisih terlebar yang pernah tercatat sepanjang sejarah BBM di Indonesia. Kebijakan ini secara langsung mendorong perubahan perilaku konsumen di SPBU, terutama bagi mereka yang sensitif terhadap harga. (fea)