SUMATERA SELATAN — Proyeksi ini menjadi angin segar di tengah kepanikan yang melanda investor global pekan lalu. Indeks acuan Korea Selatan, KOSPI, sempat ambruk hingga memicu mekanisme penghentian sementara perdagangan — sebuah skenario yang jarang terjadi dan kerap disebut sebagai circuit breaker.
Kapan Rebound Diprediksi Terjadi?
Timothy Moe tidak menyebutkan jangka waktu pasti kapan pemulihan akan dimulai. Namun, ia menekankan bahwa fundamental ekonomi Korea Selatan tetap solid. Menurutnya, aksi jual besar-besaran yang terjadi baru-baru ini lebih didorong oleh faktor psikologis dan posisi spekulatif, bukan oleh kerusakan fundamental ekonomi.
“Kami melihat koreksi ini sebagai fase yang menakutkan, tetapi rebound kemungkinan akan terjadi,” ujar Moe dalam sebuah catatan riset yang dikutip oleh media finansial global. Ia menambahkan bahwa valuasi saham Korea saat ini sudah mulai menarik bagi investor jangka panjang.
Apa Pemicu Aksi Jual Besar-besaran?
Koreksi tajam di bursa Korea dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Di tingkat global, kekhawatiran atas kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan perlambatan ekonomi China menjadi pemicu utama. Sementara itu, di dalam negeri, kekhawatiran terhadap perlambatan ekspor semikonduktor — tulang punggung ekonomi Korea — memperburuk sentimen.
- Sentimen global: Kekhawatiran suku bunga The Fed dan perlambatan China.
- Sentimen domestik: Pelemahan ekspor semikonduktor dan ketidakpastian kebijakan industri.
- Aksi spekulatif: Posisi short-selling yang besar mempercepat penurunan harga saham.
Apa Artinya bagi Investor?
Pandangan Goldman Sachs ini memberikan sinyal bahwa investor tidak perlu panik berlebihan. Bagi investor yang memiliki toleransi risiko tinggi, fase koreksi justru bisa menjadi peluang akumulasi. Namun, perlu diingat bahwa volatilitas masih mungkin berlanjut dalam jangka pendek.
“Investor sebaiknya mulai mencermati saham-saham blue-chip dengan fundamental kuat yang harganya sudah turun signifikan,” ujar seorang analis pasar modal di Jakarta yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan bahwa investor Indonesia yang memiliki eksposur ke Korea melalui reksa dana atau ETF perlu mencermati ulang portofolionya.
Konfirmasi dari Data Pasar
Data Bloomberg menunjukkan bahwa indeks KOSPI telah turun lebih dari 10 persen dalam sebulan terakhir, memasuki zona koreksi. Meski demikian, arus modal asing mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi dalam beberapa hari terakhir. Investasi mengandung risiko.
Goldman Sachs belum me