PALEMBANG — Ribuan perempuan Sumatera Selatan mengubah Car Free Day (CFD) di kawasan Monpera menjadi panggung budaya raksasa. Mereka kompak mengenakan kebaya padu padan kain songket khas Bumi Sriwijaya, Minggu (19/7/2026), dalam parade yang berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI).
Kategori yang dicatat adalah perempuan berkebaya dengan kain songket terbanyak dalam satu waktu. Langkah ini sekaligus menjadi strategi promosi untuk mengangkat Jembatan Ampera sebagai ikon wisata Sumatera Selatan ke level internasional.
Pengakuan UNESCO Jadi Awal Tanggung Jawab Baru
Perayaan tahun ini memiliki arti khusus. Kebaya baru saja ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO pada akhir 2024 lalu melalui skema joint nomination regional. Ketua Umum DPP PIM Lana T. Koentjoro menegaskan pengakuan dunia itu bukan garis finis.
“Pengakuan UNESCO bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Kita harus konsisten menunjukkan bahwa kebaya benar-benar dijalankan dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat,” ujar Lana saat menerima piagam penghargaan MURI di Palembang.
Kowani: Dari Kongres 1928 ke Ekonomi UMKM
Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) periode 2024–2029, Nannie Hadi Tjahjanto, yang hadir langsung di Palembang, menyoroti dimensi ekonomi dari gerakan berkebaya. Menurut Nannie, setiap perempuan yang berdandan lengkap dengan kebaya dan aksesori telah menggerakkan rantai usaha mikro dari hulu ke hilir.
“Dari kebaya ini kita telah mengangkat seluruh UMKM Indonesia. Mulai dari selop, kain ganding, hingga jasa MUA. Saya sendiri bersanggul dan berdandan subuh-subuh menggunakan berbagai aksesori. Jadi, sudah berapa banyak UMKM yang dilibatkan dalam satu tubuh saya saja? Hal inilah yang kami perjuangkan,” tutur Nannie.
Ia juga mengajak publik merefleksikan semangat Kongres Perempuan Pertama 1928 menjelang usia 100 tahun Kowani. Meski keterwakilan perempuan di tingkat elite sudah melahirkan presiden dan ketua DPR RI, Nannie mengingatkan tantangan di akar rumput masih berat: kekerasan dalam rumah tangga, perdagangan orang, hingga perempuan yang menjadi kurir narkoba akibat desakan ekonomi.
Multiplier Effect: Ekonomi Kreatif yang Inklusif
Ketua Umum DPP PIM Lana T. Koentjoro menjelaskan, gerakan berkebaya menciptakan efek berganda yang meluas. Industri hilir yang mayoritas digerakkan oleh perempuan menikmati pertumbuhan signifikan setiap kali masyarakat mengenakan kebaya.
“Mulai dari pengrajin batik, tenun, songket, penjahit, desainer muda, pengrajin aksesori, hingga industri makeup artist (MUA) ikut bergerak. Gerakan berkebaya ini secara nyata memperkuat ekonomi keluarga melalui pemberdayaan perempuan,” tambah Lana.
Untuk menjaga keberlanjutan, DPP PIM mendorong penerapan kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, komunitas, akademisi, media, dan pelaku usaha. PIM juga mengimbau pemerintah daerah aktif mendaftarkan variasi kebaya khas daerah sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional.
Kebaya Go to School: Menyasar Generasi Muda
Merespons antusiasme publik, DPP PIM berkomitmen mendekatkan kebaya ke generasi muda lewat program terstruktur. Dua program utama yang digulirkan adalah Kebaya Go to School dan Kebaya Go to Campus. Langkah ini diharapkan memastikan tradisi berkebaya tidak hanya menjadi selebrasi tahunan, tetapi bagian dari gaya hidup sehari-hari.