PALEMBANG — Pelatihan ini digelar oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian melalui Direktorat Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, bekerja sama dengan PT Iskol Agridaya Internasional. Para peserta dibagi ke dalam tiga kelas dengan rincian 32 orang, 34 orang, dan 35 orang agar proses belajar lebih maksimal.
Mengapa Standar ISPO Penting bagi Pekebun?
Penerapan standar ISPO dinilai strategis untuk memperkuat tata kelola perkebunan sawit nasional. Perwakilan Direktorat Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Tulus Margono, mengatakan pelatihan ini bertujuan agar peserta memahami prinsip, kriteria, dan indikator ISPO sehingga bisa diterapkan langsung di kebun masing-masing.
"Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan dapat memahami prinsip, kriteria, dan indikator ISPO sehingga mampu menerapkan dalam pengelolaan kebun masing-masing," kata Tulus dalam keterangannya di Palembang, Rabu.
Dampak Langsung: Produktivitas dan Kesejahteraan
Implementasi standar ISPO tidak hanya soal kelestarian lingkungan. Penerapan yang konsisten diyakini mampu meningkatkan produktivitas kebun dan pada akhirnya kesejahteraan pekebun. Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten OKI Dedi Kurniawan menekankan pentingnya penguatan kelembagaan pekebun sebagai fondasi keberhasilan di lapangan.
Menurut Dedi, kelompok tani yang kelembagaannya kuat akan lebih mudah mengakses program pengembangan perkebunan. Selain itu, posisi tawar mereka dalam rantai usaha kelapa sawit juga lebih baik.
"Ilmu yang diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat diterapkan di lapangan dan dibagikan kepada pekebun lainnya sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas," ujarnya.
Peserta Diharapkan Jadi Agen Perubahan
Kepala Bidang Produksi Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan Havizman menambahkan, pelatihan ini punya peran strategis dalam pembangunan perkebunan sawit rakyat yang berkelanjutan di Sumsel. Para peserta diharapkan tidak hanya menerapkan ilmu untuk diri sendiri, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mendorong praktik perkebunan sesuai standar keberlanjutan di wilayah masing-masing.
Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah untuk memperkuat daya saing komoditas sawit Indonesia di pasar global, terutama di tengah tuntutan rantai pasok internasional yang semakin ketat terhadap produk ramah lingkungan.