SUMATERA SELATAN — Lima pimpinan bank pelat merah dan dua perwakilan pemerintah duduk bersama di ruang rapat DPR pada Selasa pagi. Mereka membahas satu agenda utama: bagaimana menyelamatkan harga saham bank-bank BUMN yang terus merosot dalam beberapa pekan terakhir.
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyebut, secara fundamental kinerja bank-bank ini masih bagus. Namun, gejolak global membuat harga saham mereka tertekan. "Yang sebenarnya bagus-bagus tapi kemudian dengan situasi pasar yang dipengaruhi global kemudian berdampak," ujarnya di hadapan para direksi.
Buyback Saham Jadi Opsi
Dalam pertemuan itu, Dasco mengungkapkan bahwa pemerintah dan DPR membuka peluang untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback. Langkah ini biasa diambil saat harga saham dinilai terlalu murah dibanding nilai fundamental perusahaan.
"Kemudian kita pada kesempatan yang tepat untuk kembali buyback saham-saham yang di pasar," kata Dasco.
Buyback dianggap sebagai sinyal positif bagi pasar. Aksi korporasi ini menunjukkan bahwa manajemen percaya harga saham perusahaan sudah berada di bawah nilai wajarnya. Selain itu, buyback juga bisa menopang harga saham agar tidak jatuh lebih dalam.
Deretan Bos Bank yang Hadir
Dari jajaran bank Himbara, hadir langsung Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan, Direktur Utama BRI Hery Gunardi, dan Direktur Utama Bank Mandiri Riduan. Tak ketinggalan, Direktur Utama Taspen Rony Hanityo Aprianto serta Direktur Utama INA Oki Ramadhana juga ikut dalam rapat.
Sementara dari sisi pemerintah, hadir Ketua Badan Pengaturan BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa isu ini tidak hanya menjadi perhatian DPR, tapi juga pemerintah pusat.
Tekanan Global dan Dampak ke Saham Bank
Anjloknya saham perbankan BUMN belakangan ini tidak lepas dari sentimen global. Ketidakpastian suku bunga acuan di Amerika Serikat dan perlambatan ekonomi sejumlah negara mitra dagang Indonesia membuat investor asing menarik dana dari pasar saham emerging market, termasuk Indonesia.
Saham-saham bank dengan kapitalisasi besar seperti BRI, BNI, dan Mandiri menjadi yang paling terpukul karena porsi kepemilikan asing yang cukup signifikan. Meski laba bank-bank ini masih tumbuh, sentimen pasar jangka pendek kerap mengabaikan fundamental.
Langkah buyback yang digagas DPR dan pemerintah diharapkan bisa menjadi tameng sementara. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan masing-masing direksi perusahaan, yang harus mempertimbangkan kondisi kas dan rencana ekspansi ke depan.