SUMATERA SELATAN — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatatkan kinerja yang solid pada paruh pertama 2026. Pendapatan konsolidasi perusahaan mencapai Rp 75,9 triliun, sementara laba bersihnya menyentuh angka Rp 10,6 triliun. Pertumbuhan ini tak lepas dari membaiknya bisnis seluler dan strategi transformasi digital yang tengah dijalankan manajemen.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menyebut capaian ini merupakan buah dari strategi jangka panjang yang diberi nama TLKM 30. "Komitmen dan dedikasi kami dalam mengakselerasi transformasi digital melalui strategi TLKM 30 tecermin dari pertumbuhan yang berhasil kami capai pada semester pertama tahun ini," ujarnya dalam rilis resmi, Senin (3/8/2026).
Efisiensi dan Pemulihan Bisnis Seluler Topang Kinerja
Perusahaan mencatat EBITDA sebesar Rp 37,5 triliun, meningkat 3,8 persen secara tahunan dengan margin 49,4 persen. Arus kas operasional juga tumbuh 7 persen menjadi Rp 34,9 triliun. Manajemen menyebut pertumbuhan ini ditopang oleh program efisiensi berkelanjutan dan disiplin pengelolaan biaya yang ketat.
Jika dihitung tanpa faktor-faktor non-reguler, laba bersih yang dinormalisasi mencapai Rp 11,3 triliun atau tumbuh 6,2 persen. Angka ini mencerminkan ketahanan fundamental usaha Telkom di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlanjut.
Telkomsel Catat Pertumbuhan ARPU, Bisnis Digital Makin Moncer
Di segmen bisnis konsumen (B2C), anak usaha Telkom, Telkomsel, membukukan pendapatan Rp 55,6 triliun atau naik 3,3 persen. Pendapatan dari layanan digital dan data menjadi mesin utama pertumbuhan dengan lonjakan 11 persen. Rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) layanan seluler meningkat 9 persen menjadi Rp 45.600, didorong oleh meningkatnya konsumsi data masyarakat selama liburan sekolah dan perhelatan Piala Dunia.
Untuk layanan fixed broadband IndiHome, jumlah pelanggan tercatat 9,5 juta, sedikit turun dari 10,1 juta pada semester I 2025. Meski begitu, ARPU IndiHome secara kuartalan naik 3,4 persen menjadi Rp 211.000. Rasio konvergensi layanan juga meningkat ke angka 65 persen, menandakan semakin banyak pelanggan yang menggunakan paket terintegrasi.
Ke depan, Telkomsel akan fokus pada strategi pertumbuhan berkualitas dengan mengutamakan pengalaman pelanggan. Perusahaan berencana memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), jaringan 5G, dan solusi digital yang lebih personal untuk kebutuhan individu maupun pelaku usaha.
Bisnis B2B dan Infrastruktur Digital Tumbuh Signifikan
Segmen bisnis antar-perusahaan (B2B) Infrastructure menjadi bintang kinerja kali ini. Total pendapatan melonjak 19 persen menjadi Rp 33,1 triliun. Pendapatan eksternal naik 4,9 persen menjadi Rp 4,7 triliun berkat meningkatnya permintaan layanan data, internet, dan teknologi informasi.
Anak usaha menara, Mitratel, mencatat pendapatan Rp 4,7 triliun dengan pertumbuhan 2,1 persen. Jumlah penyewa menara naik 4,9 persen menjadi 63.866, mendorong rasio penyewaan menjadi 1,57 kali. Sementara itu, bisnis pusat data melalui NeutraDC tengah dikonsolidasikan menjadi pengelola terpusat seluruh aset data center TelkomGroup.
Segmen B2B ICT membukukan pendapatan Rp 7,3 triliun, tumbuh 35,7 persen secara kuartalan meski masih dalam proses restrukturisasi portofolio. Adapun bisnis internasional menyumbang pendapatan Rp 5,7 triliun. Dengan fondasi yang semakin kuat di berbagai lini, Telkom optimistis dapat terus memperkuat perannya sebagai penggerak ekosistem digital nasional.