SUMATERA SELATAN — Pergerakan indeks yang hijau tidak menjamin seluruh saham ikut menguat. Data statistik BEI yang dirilis Sabtu (22/8/2026) menunjukkan masih ada emiten yang mengalami koreksi dalam, terutama dari sektor transportasi dan infrastruktur.
Saham TCPI tercatat jatuh dari Rp3.600 menjadi Rp2.320 per saham dalam sepekan. Koreksi ini menjadi yang terbesar di antara saham-saham lainnya.
Daftar 10 Saham dengan Penurunan Terbesar
Berikut adalah deretan emiten yang masuk jajaran top losers berdasarkan data BEI:
- PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) — turun 35,56% ke Rp2.320
- PT LinkNet Tbk (LINK) — turun 9,37% ke Rp1.500
- Delapan saham lainnya juga mencatat penurunan dua digit sepanjang pekan ini
Dari daftar tersebut, saham LINK mengalami pelemahan paling kecil dibandingkan sembilan saham lainnya. Posisi saham emiten jaringan internet ini turun dari level Rp1.655 pada pekan sebelumnya.
Koreksi di Tengah Penguatan IHSG
Fenomena ini menunjukkan rotasi sektor yang terjadi di pasar modal. Investor cenderung memindahkan dana ke saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi motor penggerak IHSG, sementara saham-saham dengan fundamental lebih lemah justru ditinggalkan.
Tekanan jual yang cukup dalam pada TCPI menarik perhatian pelaku pasar. Sebagai emiten anak usaha PT Pertamina International Shipping, pergerakan saham ini kerap dipengaruhi oleh sentimen sektor energi dan logistik.
Adapun tekanan pada LINK lebih disebabkan oleh faktor internal perusahaan. Pelaku pasar tampaknya masih wait and see terhadap prospek bisnis perusahaan di tengah persaingan industri telekomunikasi yang semakin ketat.
Koreksi Wajar atau Awal Pelemahan?
Koreksi tajam pada saham-saham top losers pekan ini perlu dicermati investor. Pola pergerakan ini mengingatkan bahwa penguatan indeks tidak selalu mencerminkan kondisi seluruh saham di bursa.
Untuk pekan depan, pelaku pasar akan mencermati apakah tekanan jual pada saham-saham tersebut berlanjut atau justru menjadi peluang akumulasi. Faktor eksternal seperti pergerakan nilai tukar rupiah dan harga komoditas global tetap menjadi sentimen yang patut diwaspadai.
Investasi mengandung risiko. Calon investor disarankan melakukan analisis fundamental dan teknikal sebelum mengambil keputusan.