Pencarian

Rupiah Tembus Rp18.000/US$, Ekonom Sebut BI Rate Bukan Obat Tunggal

Senin, 19 Oktober 2026 • 15:04:02 WIB
Rupiah Tembus Rp18.000/US$, Ekonom Sebut BI Rate Bukan Obat Tunggal
Nilai tukar rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan terkini.

SUMATERA SELATAN — Nilai tukar rupiah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, memicu perdebatan soal efektivitas suku bunga acuan sebagai penahan pelemahan. Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai BI Rate hanya perlu dinaikkan bila pelemahan berubah menjadi koreksi pasar uang yang tidak terkendali.

Pelemahan rupiah ke level Rp18.000/US$ menandai titik yang penting secara psikologis bagi pelaku pasar, tetapi tidak otomatis menjadi pemicu mekanis bagi Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan. Penilaian itu disampaikan Syafruddin Karimi, ekonom Universitas Andalas, merespons pertanyaan soal langkah bank sentral menjaga stabilitas nilai tukar.

Menurut Syafruddin, kenaikan BI Rate baru masuk akal jika pelemahan rupiah sudah berubah menjadi disorderly adjustment, yakni koreksi pasar uang yang tidak terkendali. Kondisi itu tidak cukup ditandai oleh angka kurs semata.

Empat Syarat yang Membuat BI Rate Perlu Naik

Syafruddin merinci sejumlah kondisi yang harus muncul bersamaan sebelum bank sentral mengambil opsi kenaikan suku bunga acuan. Rupiah terus mencetak level terendah saja tidak memenuhi ambang tersebut.

  • Aliran modal asing keluar (outflow) meluas, tidak hanya dari saham tetapi juga dari Surat Berharga Negara (SBN)
  • Ekspektasi inflasi naik
  • Intervensi pasar yang dilakukan bank sentral kehilangan efektivitas
  • Pelemahan berubah menjadi koreksi pasar uang yang tidak terkendali

"Jadi, angka Rp18.000 penting secara psikologis, tetapi bukan pemicu mekanis untuk menaikkan suku bunga," kata Syafruddin, Senin (19/10/2026).

Mengapa Level Rp18.000 Berbeda dari Sekadar Angka

Level Rp18.000 per dolar AS punya bobot tersendiri karena berfungsi sebagai batas bulat yang dipantau pelaku pasar. Penembusan angka bulat biasanya memicu kekhawatiran baru di kalangan investor, terutama pemegang obligasi dan importir yang kebutuhan valasnya besar.

Namun, Syafruddin memisahkan antara tekanan psikologis dan kebutuhan respons kebijakan moneter. Kenaikan BI Rate yang terlalu cepat, tanpa disertai gejalanya, berisiko menambah beban biaya dana bagi perbankan dan dunia usaha.

Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Bisnis

Bagi investor, perdebatan soal BI Rate menentukan arah imbal hasil obligasi dan daya tarik aset rupiah dibandingkan valas. Bila bank sentral menahan suku bunga, selisih imbal hasil dengan obligasi AS tetap menjadi faktor yang menekan aliran modal masuk.

Pelaku bisnis dengan eksposur impor menghadapi risiko biaya bahan baku yang naik jika pelemahan berlanjut. Sebaliknya, eksportir berbasis komoditas berpotensi menikmati tambahan margin dari kurs yang lebih lemah, meski permintaan global tetap menjadi penentu utama.

Syafruddin menempatkan intervensi pasar sebagai instrumen yang lebih dulu diuji efektivitasnya sebelum suku bunga dipakai. Bila intervensi masih mampu menstabilkan kurs, tekanan untuk menaikkan BI Rate bisa ditahan.

Fokus Berikutnya: Outflow dan Ekspektasi Inflasi

Dua indikator yang perlu dicermati dalam beberapa waktu ke depan adalah arus modal keluar dari pasar SBN dan pergerakan ekspektasi inflasi. Keduanya menjadi penanda apakah pelemahan rupiah masih terkendali atau mulai merambat ke pasar keuangan secara lebih luas.

Selama dua gejala itu belum muncul bersamaan, argumen menahan BI Rate di level sekarang masih punya dasar. Level Rp18.000/US$ tetap layak dipantau, tetapi bukan alasan tunggal untuk mengubah arah kebijakan moneter.

Follow inisumsel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: bloombergtechnoz.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks