PALEMBANG — Tim OMC merencanakan dua sortie penerbangan pada hari kedua, naik dari satu sortie pada hari pertama. Jumlah sortie disesuaikan dengan kondisi cuaca dan perkembangan atmosfer di atas Sumatera Selatan.
Dry ice dipilih bukan tanpa alasan. Bahan ini berfungsi mengganggu kestabilan lapisan inversi, yaitu kondisi ketika udara hangat berada di atas udara lebih dingin dekat permukaan sehingga menghambat pergerakan udara.
Akibatnya, asap dan polutan terperangkap di lapisan bawah dan memperburuk kualitas udara yang dihirup warga.
Mengapa Dry Ice, Bukan Garam, pada Hari Pertama
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan, Thomas Nifinluri, menjelaskan bahwa pemilihan bahan menyesuaikan kondisi atmosfer yang dipantau tim di lapangan.
"Dalam kondisi tertentu, asap karhutla dapat terperangkap di dekat permukaan akibat lapisan inversi. Melalui OMC menggunakan dry ice, kami mencoba memengaruhi kondisi atmosfer agar lapisan tersebut melemah dan pergerakan udara menjadi lebih baik. Dengan demikian, konsentrasi asap di dekat permukaan diharapkan dapat berkurang," ujar Thomas.
Pendekatan itu tidak kaku. Jika lapisan inversi mulai melemah dan atmosfer menunjukkan potensi pembentukan awan hujan, petugas dapat mengombinasikan penyemaian dengan garam atau natrium klorida (NaCl).
"Operasi ini tidak menggunakan satu pendekatan untuk semua kondisi. Ketika lapisan inversi masih kuat, dry ice digunakan untuk membantu mengganggu kestabilan lapisan tersebut. Apabila kondisi atmosfer mendukung pertumbuhan awan hujan, penyemaian dapat dikombinasikan dengan NaCl. Setiap penerbangan disesuaikan dengan hasil pemantauan dan perkembangan cuaca," kata Thomas.
Pemadaman Darat dan Udara Tetap Jadi Andalan
OMC berposisi sebagai langkah pendukung, bukan pengganti pemadaman di lokasi kebakaran. Satgas Darat, termasuk Manggala Agni, berupaya mengendalikan sumber api, sementara Satgas Udara mendukung penanganan dari atas.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menegaskan pemerintah menjalankan seluruh instrumen secara bersamaan karena asap karhutla mengganggu kehidupan masyarakat.
"Kami memahami bahwa asap karhutla sangat mengganggu masyarakat, mulai dari kualitas udara, kesehatan, kegiatan belajar, transportasi, hingga aktivitas sehari-hari. Karena itu, seluruh instrumen harus bekerja," ujar Januanto.
Ia menyebut setiap unsur penanganan memiliki peran berbeda, dari pemadaman darat, dukungan operasi udara, hingga modifikasi cuaca. Penegakan hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab atas karhutla juga terus berjalan.
"Semua berjalan pada porsinya masing-masing dan saling mendukung. Kami tidak ingin mendahului hasil. Yang terpenting saat ini adalah kebakaran dapat segera dikendalikan dan dampak yang dirasakan masyarakat berkurang," tegas Januanto.
Jarak Pandang Palembang Membaik, Evaluasi Harian Berlanjut
Pemantauan pada hari kedua operasi menunjukkan jarak pandang di Palembang membaik dibandingkan kondisi sebelumnya. Meski begitu, petugas masih mengevaluasi perkembangan atmosfer dan kondisi kebakaran untuk menentukan langkah selanjutnya.
Kementerian Kehutanan bersama BMKG, TNI, pemerintah daerah, dan pihak terkait memantau perkembangan kebakaran, jarak pandang, kualitas udara, serta kondisi atmosfer di Sumatera Selatan. Hasil pemantauan itu menjadi dasar evaluasi operasi dan penentuan langkah penanganan berikutnya.
Pencegahan dan pemadaman sumber api tetap menjadi prioritas hingga operasi 10 hari berakhir pada 25 Oktober 2026.