EMPAT LAWANG — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan di Kabupaten Empat Lawang mencapai 11,07% pada 2025. Meski masih menjadi yang tertinggi di Sumatera Selatan, angka ini menunjukkan tren perbaikan jika dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 13,91%.
Dalam lima tahun terakhir, PoU di wilayah ini turun 3,48%. Namun, persentase penduduk yang konsumsi pangannya belum mencukupi kebutuhan energi harian itu tetap hampir dua kali lipat dari rata-rata nasional.
Apa Itu Prevalensi Ketidakcukupan Pangan?
Menurut Badan Pangan Nasional (Bapanas), PoU menggambarkan kondisi seseorang yang secara regular mengonsumsi jumlah makanan tidak cukup untuk memenuhi energi yang dibutuhkan untuk hidup normal, aktif, dan sehat. Indikator ini menjadi alat untuk mengukur kerawanan pangan dan gizi di suatu wilayah.
Artinya, dari total penduduk Empat Lawang, sebanyak 11,07% mengonsumsi makanan namun kebutuhan energinya masih kurang. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dalam upaya memperkuat ketahanan pangan lokal.
Perbandingan dengan Kabupaten/Kota Lain di Sumsel
Data BPS menunjukkan kesenjangan cukup lebar antara Empat Lawang dengan wilayah perkotaan di Sumatera Selatan. Kota Palembang mencatat PoU terendah sebesar 3,58%, disusul Kabupaten Musi Banyuasin (3,59%) dan Kabupaten Lahat (4,64%).
Berikut daftar 10 kabupaten/kota dengan PoU terendah di Sumatera Selatan pada 2025:
- Kota Palembang: 3,58%
- Kabupaten Musi Banyuasin: 3,59%
- Kabupaten Lahat: 4,64%
- Kabupaten Banyuasin: 4,96%
- Kabupaten Ogan Ilir: 5,35%
- Kabupaten Muara Enim: 5,59%
- Kabupaten Musi Rawas Utara: 6,35%
- Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur: 6,48%
- Kabupaten Ogan Komering Ilir: 6,86%
- Kabupaten Ogan Komering Ulu: 7,07%
Langkah Pemda dan Tantangan ke Depan
Meski data menunjukkan perbaikan, angka 11,07% masih menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kabupaten Empat Lawang. Intervensi program ketahanan pangan, akses distribusi pangan bergizi, serta penguatan ekonomi rumah tangga menjadi faktor kunci untuk menekan angka tersebut lebih dalam lagi.
Dibandingkan rata-rata nasional yang hanya 7,89%, Empat Lawang perlu mempercepat program yang menyasar kelompok rentan agar defisit energi harian warga bisa terpenuhi secara bertahap.