SUMATERA SELATAN — PT Petrokimia Gresik, bagian dari holding BUMN Pupuk Indonesia, melaporkan produksi pupuk mencapai 3,2 juta ton pada Januari hingga Juni 2026. Angka ini naik dari 2,85 juta ton pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Direktur Utama Petrokimia Gresik, Dwi Satriyo Annurogo, mengatakan kenaikan ini didorong oleh optimalisasi pabrik dan perbaikan rantai pasok bahan baku.
Dukungan untuk Program Swasembada Pangan
Kenaikan produksi ini tidak terlepas dari arahan pemerintah yang menargetkan swasembada pangan pada 2027. Petrokimia Gresik mendapat penugasan untuk memproduksi pupuk bersubsidi jenis Urea dan NPK dalam jumlah lebih besar. "Kami memastikan pasokan pupuk untuk petani tepat waktu, terutama di musim tanam," ujar Dwi dalam keterangan resmi, Senin (15/7).
Perusahaan juga mengalokasikan investasi tambahan sebesar Rp 1,2 triliun pada tahun ini. Dana tersebut digunakan untuk revitalisasi pabrik pupuk ZA dan pembangunan gudang penyimpanan di Jawa Timur. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi lonjakan permintaan pada kuartal IV 2026.
Efisiensi di Tengah Tekanan Harga Gas
Meski produksi naik, Petrokimia Gresik masih menghadapi tantangan dari kenaikan harga gas alam yang menjadi bahan baku utama pupuk Urea. Untuk menekan biaya, perusahaan mengadopsi teknologi boiler hemat energi di pabrik Gresik. Hasilnya, konsumsi gas per ton pupuk turun 5 persen dibandingkan tahun lalu.
Di sisi lain, distribusi pupuk ke daerah-daerah sentra pertanian seperti Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan dipercepat. Perusahaan menggandeng Kementerian Pertanian untuk memetakan kebutuhan petani secara real-time. Data dari sistem digital Petrokimia menunjukkan, serapan pupuk di tingkat petani meningkat 8 persen pada Juni 2026.
Proyeksi Hingga Akhir Tahun
Petrokimia Gresik menargetkan total produksi pupuk sepanjang 2026 mencapai 6,5 juta ton. Jika tercapai, angka ini akan menjadi rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir. Direktur Pemasaran Petrokimia Gresik, Edi Wibowo, menambahkan bahwa perusahaan juga mulai mengekspor pupuk NPK ke Filipina dan Vietnam pada kuartal III nanti.
Dengan tambahan pasokan ini, pemerintah optimistis kebutuhan pupuk bersubsidi untuk 15 juta hektare lahan pertanian dapat terpenuhi. Bagi petani, ketersediaan stok di kios-kios resmi diharapkan bisa menekan harga pupuk nonsubsidi di pasaran.