SUMATERA SELATAN — Regulasi baru ini, bernama S1677, mengatur program percontohan selama tiga tahun dengan persyaratan ketat. Setiap kendaraan niaga yang beroperasi sepenuhnya tanpa pengemudi wajib memiliki kamera plus dua teknologi sensor lain, yang secara praktis berarti radar dan lidar. Operator juga harus menyelesaikan 50.000 mil pengujian dengan safety driver manusia di negara bagian tersebut sebelum bisa melepas pengemudi.
Mengapa Tesla Cybercab Tidak Lolos Syarat Minimal
Masalah kedua bagi Tesla terletak pada detail lain. RUU ini cenderung mempertahankan kontrol tradisional seperti setir dan pedal, yang secara langsung mengecualikan Tesla Cybercab. Mobil ini sudah diproduksi massal tanpa setir maupun pedal sama sekali. New York, negara bagian tetangga, juga sedang mempertimbangkan mandat hardware yang hampir identik.
Senator Andrew Zwicker, fisikawan di Princeton Plasma Physics Laboratory, menjadi sponsor RUU setelah menjajal Waymo di Phoenix. "Ini bukan anti-Tesla. Saya pro-keselamatan New Jersey," kata Zwicker kepada The Verge. Gelombang protes justru datang dari pemilik Tesla yang mendapat pesan langsung dari perusahaan, memperingatkan bahwa undang-undang ini akan melarang Tesla di negara bagian tersebut. Sekitar 4.000 email protes membanjiri kantor Zwicker dalam sehari.
Data Membantah Klaim Kamera Saja Cukup
Inti persoalan ada pada cara mobil melihat jalan. Waymo, Zoox, dan operator serius lain menggunakan kamera, radar, dan lidar secara bersamaan untuk membangun lapisan data yang saling menutupi. Kamera membaca rambu dan marka jalan tapi buta oleh silau dan hujan deras. Radar menembus kabut. Lidar membangun peta 3D presisi tanpa tergantung apa yang tercetak di dinding.
Elon Musk menolak semua itu dengan alasan sensor tambahan menimbulkan data bertentangan dan mengurangi keselamatan. Manusia mengemudi hanya dengan penglihatan, kata Musk, maka perangkat lunak pada akhirnya juga harus mampu. Menghilangkan radar dan lidar juga menekan biaya, inti dari rencana Tesla memproduksi Cybercab murah secara massal.
Masalahnya, data tidak mendukung klaim tersebut. Sistem berbasis kamera terbukti menabrak dinding palsu yang mudah dideteksi mobil ber-lidar. Profesor teknik Carnegie Mellon, Philip Koopman, menilai teknologi kamera saja belum siap untuk penggunaan di jalan umum sepanjang waktu, terutama di iklim sulit. Celah engineering baru terlihat saat skala armada naik dari 100 menjadi 10.000 unit.
Waymo Sudah 3.500 Unit, Tesla Baru Segelintir
Perbandingan angka di lapangan cukup mencolok. Waymo mengoperasikan lebih dari 3.500 kendaraan tanpa pengemudi di 11 wilayah metropolitan AS. Sebaliknya, Tesla masih memiliki hanya segelintir kendaraan uji tanpa pengawasan di jalan umum, terutama di Texas. Padahal Musk berjanji ratusan ribu Tesla otonom akan beroperasi pada akhir 2026.
Insiden ini menyoroti kekosongan regulasi kendaraan otonom. Kongres AS telah memperdebatkan aturan nasional selama bertahun-tahun tanpa menghasilkan kerangka kerja, membuat negara bagian menyusun aturan sendiri. California mewajibkan laporan keselamatan detail dan izin pengujian. Texas, Arizona, dan Georgia membiarkan perusahaan melakukan self-certify dengan pengawasan minimal. Pendekatan New Jersey tergolong baru karena mengatur hardware yang dibangun ke dalam mobil, bukan hanya perilaku mobil di jalan.