Pencarian

Rupiah Terus Tertekan ke Rp17.877 per Dolar AS, Tiga Sentimen Ini Jadi Biang Keroknya

Rabu, 12 Agustus 2026 • 21:03:32 WIB
Rupiah Terus Tertekan ke Rp17.877 per Dolar AS, Tiga Sentimen Ini Jadi Biang Keroknya
Petugas menunjukkan pergerakan nilai tukar rupiah di sebuah bank di Jakarta.

SUMATERA SELATAN — Analis Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan eksternal masih mendominasi pergerakan mata uang Garuda. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Washington mengklaim telah menyerang sebuah kapal di Teluk Oman yang diduga menuju Iran. Aksi ini memperpanjang kekhawatiran gangguan jalur pelayaran utama dunia.

"Iran sebelumnya mengisyaratkan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup kecuali Washington memenuhi tuntutan ganti rugi mereka, tuntutan yang ditolak keras oleh Presiden AS Donald Trump," tulis Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu (12/8/2026). Investor Menunggu Data Inflasi AS dan Hasil Review MSCI

Pelaku pasar memilih menahan diri untuk mengambil posisi agresif. Perhatian tertuju pada rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang dijadwalkan keluar Rabu waktu setempat, disusul data harga produsen pada Kamis. Angka inflasi yang lebih rendah dari perkiraan bisa mengurangi tekanan bagi The Fed untuk memperketat kebijakan moneter. Sebaliknya, angka yang lebih tinggi berpotensi memicu kembali ekspektasi kenaikan suku bunga.

Pasar swap saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga seperempat poin pada September hanya berada di kisaran 50-50. Kondisi ini membuat pergerakan dolar AS masih fluktuatif terhadap mata uang Asia, termasuk rupiah.

Selain data makro, investor juga mencermati pengumuman hasil August 2026 Index Review dari MSCI. Daftar penambahan dan penghapusan saham akan dipublikasikan sekitar pukul 04.00 WIB pada 13 Agustus 2026. Perubahan hasil review baru akan diterapkan setelah penutupan perdagangan 31 Agustus dan efektif mulai 1 September 2026.

Perlu dicatat, reaksi harga saham bisa langsung muncul setelah pengumuman. Namun, transaksi penyesuaian dana dari fund yang mengikuti indeks biasanya lebih terasa menjelang penutupan pada tanggal implementasi. Utang Pemerintah Tembus Rp 10.293 Triliun, Daya Beli Masyarakat Tergerus

Dari dalam negeri, Kementerian Keuangan merilis total utang pemerintah pusat mencapai Rp10.293,69 triliun per 30 Juni 2026. Angka ini membuat rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di level 41,26 persen.

Nilai tersebut berasal dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp8.966,79 triliun dan pinjaman Rp1.326,90 triliun. Posisi ini meningkat dari akhir Maret 2026 yang tercatat Rp9.920,42 triliun atau setara 40,75 persen terhadap PDB. Meski naik, rasio ini masih jauh di bawah batas aman Undang-Undang Keuangan Negara sebesar 60 persen terhadap PDB.

Di sisi lain, sinyal perlambatan konsumsi rumah tangga kian nyata. Penjualan ritel Indonesia tercatat turun 3,0 persen secara tahunan pada Juni 2026. Meski membaik dibandingkan penurunan 3,9 persen pada bulan sebelumnya, tren negatif ini berlangsung sejak April.

Pelemahan daya beli membuat konsumen menahan belanja barang non-esensial seperti pakaian, alat komunikasi, dan perlengkapan rumah tangga. Kondisi ini menjadi catatan tersendiri bagi pelaku bisnis ritel yang berharap momentum pemulihan di semester kedua.

Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp17.870-Rp17.940 per dolar AS.

Follow inisumsel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: idxchannel.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks