Pencarian

LPEM FEB UI Proyeksi Ekonomi Kuartal II-2026 Tumbuh 4,80 Persen, Daya Beli Tertekan Inflasi Pangan

Rabu, 05 Agustus 2026 • 10:31:02 WIB
LPEM FEB UI Proyeksi Ekonomi Kuartal II-2026 Tumbuh 4,80 Persen, Daya Beli Tertekan Inflasi Pangan
Peneliti LPEM FEB UI memaparkan proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 sebesar 4,80 persen dalam konferensi pers di Jakarta.

SUMATERA SELATAN — Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memperkirakan produk domestik bruto (PDB) kuartal II-2026 tumbuh di angka 4,80 persen (yoy). Angka ini lebih rendah dari realisasi kuartal I-2026 yang mencapai 5,12 persen, sekaligus menandakan tren perlambatan di semester pertama tahun ini.

Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menjelaskan proyeksi tersebut memiliki rentang estimasi 4,78 persen hingga 4,82 persen. Untuk keseluruhan tahun 2026, lembaga ini masih menahan proyeksi pertumbuhan di level 5,00 persen dengan rentang 4,95-5,05 persen.

Tiga Faktor Utama Penahan Laju Ekonomi

Teuku memaparkan setidaknya ada tiga faktor utama yang menahan laju ekonomi pada periode April-Juni 2026. Pertama, efek basis tinggi dari kuartal II-2025. Kedua, tidak adanya dorongan musiman signifikan seperti Ramadhan dan Idul Fitri yang tahun ini jatuh pada kuartal I-2026.

"Guncangan eksternal berupa harga energi yang tinggi dan pelemahan kurs rupiah menciptakan inflasi impor, sehingga meningkatkan biaya produksi dalam negeri," kata Teuku dalam Indonesia Economic Outlook, seperti dikutip dari Kompas.com.

Keputusan pemerintah menaikkan harga Pertamax turut memperburuk kondisi. Kebijakan ini disebut mengikis daya beli masyarakat karena biaya barang dan transportasi ikut naik.

Konsumsi Rumah Tangga Mulai Menunjukkan Tanda Kelelahan

Indikator konsumsi rumah tangga selama kuartal II-2026 menunjukkan tren penurunan. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) merosot dari 123,0 pada April menjadi 120,9 pada Mei, lalu turun lagi ke 117,8 pada Juni. Rata-rata IKK kuartal II-2026 sebesar 120,6, turun 4,4 poin dibanding kuartal sebelumnya.

Angka Juni menjadi yang terendah sejak September 2025, sekaligus pertama kalinya IKK jatuh di bawah level 120. "Penurunan ini bersifat menyeluruh, mencerminkan melemahnya pandangan terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun prospek ke depan," terang Teuku.

Inflasi Pangan dan Perlambatan Simpanan Perbankan

Tekanan harga terlihat jelas dari data inflasi. Inflasi umum naik dari 2,42 persen (yoy) pada April menjadi 3,08 persen (yoy) pada Mei, dan berlanjut ke 3,34 persen (yoy) pada Juni. Lonjakan utama berasal dari komponen harga bergejolak yang sempat mencapai 6,24 persen (yoy) pada Mei, mencerminkan efek basis rendah dan kenaikan harga pangan.

Di sektor perbankan, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 12,57 persen secara tahunan hingga Mei 2026, melambat dibanding 13,05 persen pada kuartal I-2026. Perlambatan ini terjadi hampir di seluruh jenis simpanan, termasuk giro yang tumbuh 18,71 persen (yoy), turun dari 19,84 persen (yoy) pada kuartal sebelumnya.

Pelambatan DPK mengindikasikan masyarakat mulai menahan diri dalam menabung, sejalan dengan melemahnya daya beli. Data resmi BPS yang dirilis hari ini akan menjadi konfirmasi apakah proyeksi LPEM FEB UI tersebut akurat.

Follow inisumsel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: money.kompas.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks