SUMATERA SELATAN — Pasar browser AI memang sempat memanas di 2025. Berbagai perusahaan, dari raksasa hingga rintisan, berlomba membangun peramban dengan kecerdasan buatan di dalamnya. Namun, tren itu mulai meredup. OpenAI Atlas sudah tidak ada, The Browser Company dijual ke Atlassian, dan Firefox justru kena kritik karena fitur AI-nya. Kini, fokus bergeser ke agen dan otomatisasi.
Bukan untuk Pesan Tiket atau Reservasi Hotel
Menurut Kevin Jiang, CEO Polar yang sebelumnya menggarap produk Comet di Perplexity, gelombang pertama browser AI punya kelemahan fundamental. "Konsumen tidak memesan tiket pesawat atau reservasi hotel setiap hari atau setiap minggu," ujarnya kepada TechCrunch. Ia menilai tidak ada daya tarik kuat bagi konsumen massal untuk beralih ke browser AI.
Dari situ, Polar memilih ceruk yang lebih spesifik: pekerja kantoran. Jiang percaya bahwa agen browser baru benar-benar bernilai ketika dipakai untuk riset, marketing, sales, rekrutmen, atau operasional bisnis. Targetnya bukan pengguna awam, melainan mereka yang butuh otomatisasi tugas berulang di peramban.
Cara Kerja Polar dan Model Harganya
Polar memungkinkan pengguna menjadwalkan alur kerja (workflow), menyimpan prompt, dan menugaskan agen untuk bekerja berdasarkan tab yang terbuka. Perusahaan mengklaim browser ini mudah dipakai oleh pengguna non-teknis. Semua tugas otomatisasi bisa dijalankan tanpa perlu coding.
Browser ini gratis dipakai dengan jatah kredit harian untuk tugas AI. Jika ingin kapasitas lebih besar, pengguna bisa berlangganan mulai USD 20 per bulan (sekitar Rp 330 ribu). Menariknya, sebagian besar pengguna Polar saat ini masih memakai browser lain sebagai peramban utama mereka. Mereka hanya membuka Polar saat perlu mengotomatisasi sesuatu.
Pendanaan dan Target ke Depan
Putaran pendanaan tahap awal (seed round) ini dipimpin Madrona. Sabrina Albert, partner di Madrona, menyebut otomatisasi tugas pekerja kantoran sebagai pasar yang sangat besar. "Bagian tersulit adalah membangun agen yang benar-benar andal di web terbuka yang sudah login," katanya. Menurut Albert, membangun browser sendiri memberi keuntungan dalam memahami interaksi pengguna dengan situs web, terutama karena sebagian besar layanan sudah dalam keadaan login.
Polar saat ini melihat browser sebagai antarmuka terbaik untuk otomatisasi. Namun, startup ini tidak menutup kemungkinan untuk merambah ke jalur lain seperti computer use di masa depan. Dengan dana segar ini, Polar akan fokus mengembangkan keandalan agen browser-nya sebelum memperluas pasar ke segmen yang lebih luas.