PALEMBANG — Tim Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas IBA Palembang mengembangkan pupuk inovatif "kompos-char" untuk mengatasi masalah rendahnya serapan unsur hara fosfor di lahan rawa lebak Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Inovasi ini memanfaatkan biochar sekam padi, kompos kotoran itik, dan bakteri pelarut fosfat yang mampu melepas ikatan besi dan aluminium pada tanah masam. Hingga saat ini, tim telah memproduksi sekitar 1 ton pupuk untuk diuji coba pada lahan percontohan padi dan cabai milik Kelompok Tani Cahaya Tani.
Mengapa Pupuk Biasa Tidak Efektif di Lahan Rawa Lebak?
Ketua Tim PKM Universitas IBA, Dr. Ir. Nurul Husna, menjelaskan bahwa karakteristik tanah masam pada lahan rawa lebak membuat pupuk fosfor (P) yang diberikan petani mudah terikat oleh kandungan besi dan aluminium. Akibatnya, unsur hara tersebut sulit diserap oleh tanaman meskipun petani sudah menggunakan pupuk kimia fosfat dalam jumlah besar.
"Kompos-Char kami kembangkan sebagai teknologi yang memanfaatkan potensi lokal untuk membantu meningkatkan efisiensi pemanfaatan fosfor sekaligus memperbaiki kesuburan tanah," kata Nurul di Palembang, Kamis.
Bahan Baku Melimpah di Sekitar Desa
Formula kompos-char dirancang secara ilmiah dengan memadukan tiga komponen utama. Pertama, biochar dari sekam padi yang berfungsi sebagai agen pembenah tanah. Kedua, kompos kotoran itik yang kaya akan unsur hara organik. Ketiga, bakteri pelarut fosfat yang bekerja aktif melepas ikatan zat besi dan aluminium agar fosfor dapat diserap tanaman secara maksimal.
Ketua Kelompok Tani Cahaya Tani, Suratman, mengaku bersyukur mendapatkan pemahaman teknis ini. Menurutnya, bahan baku pembuatan kompos-char sangat melimpah dan mudah diperoleh di sekitar desa. "Kami tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga mempraktikkan langsung proses pembuatan kompos-char hingga penerapannya di demplot. Ke depan kami berharap teknologi ini dapat terus diterapkan oleh anggota kelompok tani," ujarnya.
Dari Lahan Marjinal Jadi Lahan Subur
Aplikasi pupuk organik ini tidak hanya menyasar tanaman padi, tetapi juga tanaman cabai yang dibudidayakan di area galengan sawah. Tujuannya untuk mengubah lahan marjinal yang keras menjadi lebih gembur dan subur, sehingga produktivitas pertanian meningkat.
Kepala Desa Sungai Pinang, Sustrieyanti, menyambut baik inovasi tersebut. Ia menilai program ini membuka peluang baru bagi masyarakat untuk memanfaatkan limbah pertanian dan peternakan yang selama ini belum memiliki nilai ekonomi. "Kami menyambut baik program ini karena memanfaatkan potensi yang ada di desa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi petani," katanya.
Pelatihan Niaga Agar Petani Bisa Produksi Mandiri
Setelah keberhasilan peningkatan kapasitas hara tanah, Universitas IBA tidak berhenti pada tahap penelitian. Tim PKM selanjutnya akan memberikan pelatihan manajemen niaga kepada Kelompok Tani Cahaya Tani. Tujuannya agar para petani mampu memproduksi dan mendistribusikan pupuk inovatif ini secara mandiri.
Langkah ini dinilai menjadi terobosan penting bagi efisiensi usaha tani di Sumatera Selatan. Ketergantungan petani pada pupuk kimia fosfat selama ini cukup tinggi, namun efektivitas penyerapannya di lahan rawa lebak tergolong sangat rendah. Dengan kompos-char, petani tidak hanya menghemat biaya produksi, tetapi juga mendukung kedaulatan pangan regional.