PALEMBANG — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan melaporkan lonjakan signifikan kasus karhutla pada Juli 2026. Hanya dalam sembilan hari pertama bulan ini, tercatat 87 titik api, hampir menyamai total kejadian sepanjang Mei yang mencapai 91 kasus.
Peningkatan Tajam di Tengah Musim Kemarau
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman mengatakan, jumlah kejadian terus bertambah seiring menurunnya intensitas hujan. "Total kasus karhutla di Sumsel berdasarkan laporan dari BPBD kabupaten/kota sebanyak 306 kejadian hingga 9 Juli 2026. Angka itu terus mengalami peningkatan karena Sumsel telah memasuki musim kemarau dan kondisi lahan yang mengering," katanya di Palembang, Sabtu.
Data menunjukkan tren kenaikan yang konsisten. Setelah hanya mencatat 11 kejadian selama periode Januari hingga April, angka tersebut melonjak menjadi 91 kejadian pada Mei dan 117 kejadian pada Juni.
Empat Kabupaten Masuk Zona Merah Karhutla
BPBD Sumsel mengidentifikasi empat daerah dengan tingkat kerawanan tinggi. Kabupaten PALI menempati posisi teratas dengan 54 kejadian, disusul Musi Banyuasin (46 kejadian), Ogan Ilir (41 kejadian), dan Muara Enim (33 kejadian). Keempat daerah ini masuk kategori zona merah karena mencatat lebih dari 30 kejadian.
Pemicu Karhutla: Lahan Kering dan Aktivitas Manusia
Kondisi lahan yang mengering pada musim kemarau memang meningkatkan potensi kebakaran. Namun, Sudirman menegaskan bahwa sebagian besar kejadian dipicu oleh aktivitas manusia. Pemerintah daerah pun telah menetapkan status siaga di tingkat provinsi dan sejumlah kabupaten untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran.
"Upaya tersebut dilakukan untuk mendeteksi lebih dini munculnya titik api agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas," ujar Sudirman. Patroli di wilayah rawan, terutama pada lokasi yang terdeteksi memiliki titik panas, terus diintensifkan.