SUMATERA SELATAN — Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia, kembali menyetujui penambahan produksi minyak mentah untuk periode Agustus mendatang. Keputusan ini melanjutkan langkah serupa yang telah diterapkan pada Juni dan Juli 2025 dengan volume kenaikan yang identik.
Tambahan 188 Ribu Barel Per Hari: Setetes Air di Samudra Pasokan Global
Praktisi minyak dan gas bumi, Hadi Ismoyo, menilai tambahan sebesar 188 ribu barel per hari tidak cukup kuat untuk menekan harga minyak dunia. Menurutnya, angka tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan harian global yang mencapai 100 juta barel.
"Tak terlalu berpengaruh kepada kebijakan naik turunnya harga," ujar Hadi kepada CNNIndonesia.com, Selasa (7/7). Ia menambahkan, proporsi tambahan OPEC hanyalah 0,18 persen dari total pasokan minyak dunia.
Faktor Geopolitik dan Harga Acuan ICP Lebih Dominan
Hadi menjelaskan bahwa faktor yang lebih menentukan pergerakan harga BBM di Indonesia bukanlah volume produksi OPEC semata. Kondisi geopolitik global dan keseimbangan pasokan-permintaan dunia menjadi variabel utama yang memengaruhi harga minyak mentah.
Selain itu, mekanisme penetapan harga BBM di Indonesia tidak secara langsung mengikuti fluktuasi harian minyak dunia. Pemerintah mengacu pada Indonesian Crude Price (ICP) yang diterbitkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) setiap bulan.
Mengapa Harga BBM RI Tidak Berubah Secepat Harga Minyak Dunia?
Proses penyesuaian harga BBM domestif memiliki jeda waktu. Hadi mengungkapkan, formula yang digunakan adalah dua minggu data aktual dan dua minggu proyeksi. Akibatnya, kenaikan atau penurunan harga BBM di Indonesia tidak bisa terjadi di hari yang sama dengan pergerakan harga minyak mentah global.
"Dua minggu actual dan dua minggu prediction. Kenaikan dan penurunan (harga) BBM RI tidak the same day dengan kenaikan (harga) crude dunia, harus ada jeda," ujar Hadi.
Di sisi lain, jalur pelayaran Selat Hormuz yang telah kembali beroperasi penuh turut mendorong harga minyak mentah turun ke kisaran US$70 per barel. Namun, efek positif ini pun dinilai belum cukup untuk mengubah kebijakan harga BBM di Indonesia dalam waktu dekat.