FLORES TIMUR — Aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Erupsi terbaru terdeteksi pada pukul 11.37 WITA, Selasa (7/7), dengan tinggi kolom abu mencapai 2.984 meter di atas permukaan laut. Rekaman seismogram menunjukkan durasi kegempaan berlangsung selama 1 menit 27 detik.
Radius Bahaya 5 Kilometer, Warga Dilarang Mendekat
Menyusul erupsi ini, status Gunung Lewotobi Laki-laki masih bertahan di Level III atau Siaga. Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menegaskan bahwa masyarakat dan wisatawan dilarang keras melakukan aktivitas apa pun dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi.
“Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat dan barat laut,” kata Lana dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta.
Waspada Banjir Lahar Dingin di 8 Titik Aliran Sungai
Selain ancaman material erupsi, Badan Geologi meminta warga mewaspadai potensi bahaya sekunder berupa banjir lahar hujan. Ancaman ini terutama jika hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah puncak. Kawasan yang perlu diwaspadai meliputi daerah aliran sungai yang berhulu dari puncak gunung.
Lana merinci delapan titik rawan, yaitu Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote. Masyarakat di sekitar sungai-sungai itu diminta meningkatkan kewaspadaan secara mandiri.
Imbauan Gunakan Masker dan Jangan Percaya Isu Tak Jelas
Badan Geologi sangat menyarankan penduduk yang terdampak sebaran hujan abu untuk menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut. Langkah ini untuk menghindari gangguan sistem pernapasan akibat paparan abu vulkanik.
Masyarakat juga diminta tetap tenang dan mengikuti arahan pemerintah daerah setempat. “Jangan mudah percaya pada isu-isu terkait aktivitas vulkanik yang tidak jelas sumber kebenarannya,” tegas Lana.
Untuk menjaga keselamatan publik secara berkelanjutan, pemerintah daerah diharapkan memperkuat jalur koordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-laki di Desa Pululera, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, maupun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung.