JAKARTA — Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, melihat ruang penguatan rupiah terbuka lebar di tengah pelemahan indeks dolar global. Ia menyebut pernyataan Gubernur The Fed yang cenderung dovish menjadi kunci utama pergerakan hari ini.
“Rupiah pada perdagangan hari ini memiliki ruang penguatan pada kisaran di Rp17.920-Rp17.970 dipengaruhi oleh faktor global melemahnya indeks dolar seiring dengan pernyataan Gubernur The Fed yang dovish,” ujar Rully kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Pasar Bereaksi pada Data Tenaga Kerja AS yang Lesu
Optimisme pasar juga didorong oleh rilis data nonfarm payroll Amerika Serikat untuk Juni yang ternyata lebih rendah dari perkiraan. Data tersebut langsung mengubah probabilitas kenaikan suku bunga.
Sebelumnya, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober mencapai 82 persen. Namun setelah data tenaga kerja dirilis, probabilitas kenaikan suku bunga pada September turun dari 67 persen menjadi 63 persen, seperti dikutip dari Anadolu.
Harga Minyak Turun, Inflasi Jadi Perhatian The Fed
Menurut Rully, sikap hati-hati Gubernur The Fed dipicu oleh kekhawatiran terhadap kondisi inflasi AS ke depan. Ia menilai dampak kenaikan harga minyak di semester pertama akan mempengaruhi laju inflasi di semester kedua.
“Kendati begitu, kondisi data tenaga kerja lebih mengkhawatirkan The Fed yang dampaknya akan lebih dalam terhadap perekonomian AS,” ungkap dia.
Faktor tambahan yang menekan dolar adalah harga minyak yang terus turun, memberikan ruang lebih bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah untuk menguat.
Pembukaan Melemah, Tapi Potensi Balik Arah Terbuka
Meski diprediksi menguat, rupiah sempat memulai perdagangan Senin pagi dengan posisi melemah. Nilai tukar tercatat turun 29 poin atau 0,16 persen ke level Rp17.992 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.963 per dolar AS.
Pelemahan awal ini menunjukkan bahwa tekanan jual masih ada, namun analis melihat momentum penguatan bisa terjadi seiring berjalannya sesi perdagangan jika sentimen global tetap kondusif.
Faktor Domestik Masih Jadi Pemberat
Rully mengingatkan bahwa penguatan rupiah tidak akan mulus tanpa hambatan. Dari dalam negeri, sejumlah data ekonomi masih menjadi faktor penahan laju penguatan.
“Dari domestik, masih menjadi faktor pemberat bagi penguatan rupiah terkait data-data ekonomi antara lain ruang fiskal, defisit neraca perdagangan, dan cadangan devisa,” pungkasnya.