PALEMBANG — Ratusan warga, relawan, dan aparatur kelurahan turun ke Jalan Mayor Zen, Kelurahan Sungai Selayur, sejak pagi. Mereka membawa karung, sapu lidi, dan alat kebersihan lain yang dibagikan PT Pusri. Dalam waktu beberapa jam, total 2 ton sampah berhasil dikumpulkan dari sejumlah titik.
Kegiatan ini bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang digelar Departemen Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pusri. Perusahaan anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero) itu juga menggandeng bank sampah Beringin sebagai mitra pengelola.
Dua Ton Sampah Disulap Jadi Bernilai Ekonomi
VP TJSL Pusri, Rahmawati, mengatakan sampah yang terkumpul tidak dibuang begitu saja. "Sampah dikelola agar memberikan nilai tambah sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular di tingkat masyarakat," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi.
Proses pemilahan dilakukan langsung di lokasi. Sampah organik dipisahkan dari anorganik. Barang bekas seperti botol plastik, kardus, dan kaleng rencananya disetorkan ke bank sampah Beringin untuk didaur ulang atau dijual kembali.
Momentum Gotong Royong Warga dan Korporasi
Rahmawati menambahkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial. "Kami ingin mendorong budaya gotong royong, meningkatkan kepedulian terhadap pengelolaan sampah, serta memperkuat kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat," kata dia.
Sebelum aksi bersih dimulai, peserta mendapat pembekalan teknis tentang cara memilah sampah yang benar. Pusri juga menyerahkan bantuan alat kebersihan kepada masyarakat setempat sebagai dukungan jangka panjang.
Lurah: Bantuan Tepat Sasaran untuk Kebersihan Lingkungan
Lurah Sungai Selayur turut mengapresiasi langkah Pusri. Menurutnya, keterlibatan perusahaan BUMN ini membantu mempercepat penanganan sampah di wilayah yang selama ini menjadi salah satu titik rawan tumpukan limbah rumah tangga.
Aksi bersih Kampung Sehati menjadi agenda tahunan Pusri dalam menyambut Hari Lingkungan Hidup. Tahun ini, perusahaan memilih lokasi di Kecamatan Kalidoni karena tingginya volume sampah domestik yang belum terkelola secara optimal.