SUMATERA SELATAN — Turki hanya kalah sekali dalam 18 poin yang diperebutkan di babak kualifikasi, tepatnya dari Spanyol yang merupakan juara bertahan Eropa. Hasil 13 poin dari enam laga cukup membawa mereka ke Amerika Serikat setelah melewati dua laga play-off yang menegangkan.
Montella: Arsitek Harmoni di Tengah Tekanan
Vincenzo Montella, atau akrab disapa L'Aeroplanino, bukan sekadar pelatih asing yang bekerja di Turki. Pria kelahiran Napoli ini mengaku dekat dengan budaya setempat. "Budaya Turki sangat mirip dengan tempat saya tumbuh besar," katanya.
Sejak ditunjuk pada 2023, Montella berhasil menghilangkan perpecahan yang kerap menghantui ruang ganti timnas. Formasi 4-2-3-1 menjadi andalan, tapi ia juga piawai mengubah strategi sesuai lawan. Hasilnya: Turki lolos ke turnamen besar dua kali berturut-turut untuk pertama kalinya dalam waktu lama.
Arda Guler: Beban Bangsa di Pundak Pemain 21 Tahun
Thierry Henry menyebutnya sebagai "bakat kelas dunia yang tak terbantahkan". Arda Guler, gelandang Real Madrid berusia 21 tahun, kini menjadi pusat permainan Turki. Ia sudah melewati masa transisi dari sekadar talenta muda menjadi pemain yang diandalkan di level tertinggi.
Yang menarik, Guler dan Kenan Yildiz — bintang Juventus — bahkan belum lahir saat Turki terakhir kali tampil di Piala Dunia pada 2002. Kini, keduanya menjadi poros tim. Yildiz, yang namanya berarti "bintang" dalam bahasa Turki, mencatat 11 gol dan 10 assist untuk Juventus musim lalu, plus tiga gol di kualifikasi.
Masalah Klasik: Tak Ada Striker Murni yang Terbukti
Montella masih pusing soal posisi nomor sembilan. Can Uzun dari Eintracht Frankfurt menjadi kandidat, tapi belum ada yang benar-benar mengamankan tempat. Di lini belakang, Ugurcan Cakir (Galatasaray) menjadi kiper utama setelah juara liga, sementara duet Abdulkerim Bardakci dan Merih Demiral cukup solid.
Ferdi Kadioglu sudah dikenal penggemar Brighton setelah musim gemilangnya. Hakan Calhanoglu, kini sebagai pemain senior, turun sebagai deep-lying playmaker. Orkun Kokcu, gelandang Besiktas kelahiran Belanda, menjadi pahlawan tanpa tanda jasa dengan 10 gol dan 9 assist musim ini.
Dukungan dari Diaspora, Tapi Tak Banyak Ultra
Komunitas Turki di AS diperkirakan antara 250.000 hingga 500.000 jiwa. Namun, dengan harga tiket dan perjalanan yang mahal, tak banyak kelompok ultra yang bakal hadir. Bendera-bendera Turki dipastikan tetap berkibar, meski jumlah suara di stadion mungkin tak terlalu riuh.
"Saya tidak akan menukar pemain ini dengan siapa pun," ujar Montella usai lolos. "Mereka menunjukkan bisa berkorban."