PALEMBANG — Tangan kecil owa siamang di PRS Punti Kayu cekatan mengambil potongan wortel, jagung, dan timun di balik kandang berukuran 3×2 meter. Matanya sayu menatap ke luar, seolah menanti kapan bisa kembali ke alam liar bersama induknya.
“Usianya baru satu tahun, masih anakan, tapi sudah terpisah dari ibunya,” kata Arnestasya Fitri Andriani, dokter hewan di PRS Punti Kayu, Kamis (7/5/2026).
Dari 29 owa yang dirawat, 28 ekor merupakan owa siamang dan satu ekor owa ungko. Seluruhnya adalah satwa serahan warga, baik sukarela maupun hasil sitaan. Empat di antaranya masih berusia sekitar satu tahun.
Mengapa Anakan Owa Bekas Peliharaan Butuh Rehabilitasi Lebih Lama?
Pemisahan dari induk di usia dini menghambat tumbuh kembang siamang. Secara alami, anak siamang masih melekat pada induk betina hingga usia satu tahun untuk menyusu dan mendapat kehangatan.
Memasuki usia satu hingga dua tahun, terjadi alih asuh. Induk jantan mengambil alih tugas menggendong, merawat, dan mengajak bermain, sementara induk betina menyapih anaknya.
“Ketika sudah terpisah dari induknya, ada pengetahuan atau pembelajaran terputus. Ini menjadi tantangan tersendiri dalam proses rehabilitasi,” ujar Arnes.
Berapa Lama Proses Rehabilitasi Owa Siamang?
PRS Punti Kayu yang dikelola The Aspinall Foundation sejak 2022 menangani rehabilitasi satwa tersebut. Sejauh ini, lembaga itu telah melepasliarkan sekitar 40 individu siamang.
“Butuh waktu sekitar 5-10 tahun untuk merawat siamang bekas peliharaan warga, karena kami benar-benar harus memastikan mereka tidak lagi akrab dengan sentuhan manusia,” jelas Arnes.
Direktur The Aspinall Foundation, Made Wedana, mengatakan owa ungko baru masuk dalam program kerja sama tahun ini. “Untuk ungko, ada satu individu karena baru masuk kerja sama tahun ini (2026),” katanya, Rabu (20/4/2026).
Nasib Gading: Owa Ungko yang Terpapar Virus Herpes
Satu-satunya owa ungko di PRS Punti Kayu bernama Gading harus menghabiskan sisa hidupnya di kandang perawatan. Satwa itu terjangkit virus herpes yang diduga berasal dari pemilik sebelumnya.
“Kalau ada, kemungkinan mereka akan menghabiskan sisa hidupnya di kandang penangkaran,” kata Arnes merujuk pada satwa yang menunjukkan tanda klinis penyakit.
Kasus Gading menjadi catatan penting. Memelihara satwa liar tidak hanya berbahaya bagi manusia, tapi juga meningkatkan potensi penyakit pada satwa dan membahayakan populasi mereka di alam liar.
Apa yang Terjadi Jika Owa Tak Bisa Dilepasliarkan?
Bagi owa yang tidak menunjukkan gejala penyakit, proses rehabilitasi terus berjalan. Namun, jika ditemukan tanda klinis, satwa harus menetap di kandang penangkaran seumur hidup.
“Beruntungnya, sejumlah siamang yang dirawat belum menunjukkan tanda-tanda klinis penyakit,” ujar Arnes.
PRS Punti Kayu terus memastikan insting alami satwa kembali sebelum dilepasliarkan. Tujuannya, meningkatkan survival rate mereka di hutan.