JAMBI — Kebijakan baru yang mewajibkan ekspor CPO melalui bursa berjangka DSI mulai berdampak ke petani sawit di Jambi. Harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani dilaporkan anjlok, membuat para pekebun kelimpungan menutup biaya produksi.
Seorang petani sawit di Kabupaten Muaro Jambi mengatakan harga TBS turun hingga Rp 300 per kilogram dalam sepekan. "Sebelum kebijakan ini, harga masih di kisaran Rp 2.800 per kg. Sekarang hanya Rp 2.500 per kg. Ini belum termasuk potongan biaya angkut," ujarnya.
Apa Penyebab Harga TBS Anjlok?
Penurunan harga TBS ini dipicu oleh kebijakan baru yang mewajibkan ekspor CPO melalui bursa berjangka DSI. Aturan tersebut membuat rantai perdagangan CPO berubah, sehingga harga acuan di pabrik kelapa sawit (PKS) ikut tertekan.
Petani menilai kebijakan itu belum mempertimbangkan kondisi di lapangan. Mereka khawatir harga TBS akan terus merosot jika tidak ada evaluasi dari pemerintah pusat.
Siapa yang Paling Terdampak?
Petani sawit swadaya menjadi pihak yang paling merasakan dampak penurunan harga TBS ini. Mereka tidak memiliki kontrak jangka panjang dengan pabrik, sehingga harga jual sangat bergantung pada fluktuasi pasar harian.
Di beberapa desa di Kabupaten Batanghari dan Sarolangun, petani memilih menunda panen karena harga tidak sebanding dengan biaya pemupukan dan perawatan kebun. Sebagian lainnya terpaksa menjual dengan harga murah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sudah Ada Tindak Lanjut dari Pemerintah?
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Provinsi Jambi terkait keluhan petani sawit. Namun, sejumlah asosiasi petani di daerah tersebut berencana mengadukan persoalan ini ke Dinas Perkebunan setempat.
Mereka berharap ada insentif harga atau penyesuaian kebijakan agar petani kecil tidak terus dirugikan. "Kami minta pemerintah daerah menyampaikan aspirasi ini ke pusat. Jangan sampai petani jadi korban kebijakan yang tidak berpihak," kata perwakilan petani.
Bagaimana Prospek Harga TBS ke Depan?
Analis memperkirakan harga TBS masih akan fluktuatif dalam beberapa pekan ke depan seiring adaptasi pasar terhadap mekanisme ekspor CPO melalui DSI. Jika permintaan global tetap stabil, harga berpotensi kembali naik secara bertahap.
Namun, petani di Jambi berharap pemerintah segera melakukan evaluasi. Mereka menilai kebijakan ini terlalu terburu-buru tanpa sosialisasi yang memadai ke petani di daerah.
Apakah kebijakan DSI hanya berlaku untuk ekspor CPO?
Ya, kebijakan ini khusus mewajibkan ekspor minyak sawit mentah (CPO) melalui bursa berjangka DSI. Produk turunan sawit lainnya seperti olein atau biodiesel belum terkena aturan serupa.
Berapa kerugian petani akibat penurunan harga TBS ini?
Belum ada angka pasti, namun petani di beberapa kabupaten di Jambi mengaku pendapatan mereka turun sekitar 10-15 persen dalam sepekan terakhir. Kerugian terbesar dialami petani dengan luasan lahan di bawah dua hektare.
Kapan harga TBS diperkirakan kembali normal?
Belum ada kepastian. Harga TBS sangat bergantung pada harga acuan CPO di bursa DSI dan permintaan pasar global. Petani berharap ada intervensi harga dari pemerintah dalam waktu dekat.