Pencarian

Harga TBS Sawit Sumsel Turun Tipis di Tengah Penguatan Dolar AS, Petani Masih Bisa Bernapas

Kamis, 21 Mei 2026 • 11:16:42 WIB
Harga TBS Sawit Sumsel Turun Tipis di Tengah Penguatan Dolar AS, Petani Masih Bisa Bernapas
Harga TBS kelapa sawit Sumsel turun tipis di periode II Mei 2026.

PALEMBANG — Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Sumatera Selatan kembali mencatatkan penurunan pada periode II Mei 2026. Padahal, penguatan nilai tukar dolar AS biasanya menjadi angin segar bagi harga komoditas ekspor. Namun kali ini, faktor eksternal lain justru lebih dominan menekan harga.

Berdasarkan penetapan Dinas Perkebunan Sumsel, harga TBS tertinggi untuk usia tanam 22 tahun kini berada di angka Rp3.868,17 per kilogram (kg). Angka ini turun dibandingkan periode I Mei 2026 yang mencapai Rp3.905,44 per kg. Penurunan serupa juga terjadi pada kelompok usia produktif 10 hingga 20 tahun, yang kini dihargai Rp3.864,31 per kg.

Mengapa Harga Sawit Turun Meski Dolar AS Menguat?

Plt Kepala Dinas Perkebunan Sumsel, M Ichwansyah, menjelaskan bahwa harga TBS sangat dipengaruhi oleh harga CPO di pasar internasional, bukan semata-mata nilai tukar dolar. Saat ini, harga acuan CPO di Bursa Malaysia dan Rotterdam justru sedang mengalami penurunan.

“Secara sederhana memang dolar memengaruhi harga TBS, tapi bukan satu-satunya faktor. Saat ini harga acuan CPO dunia di Bursa Malaysia dan Rotterdam sedang turun,” ujar Ichwansyah, Rabu (20/5/2026).

Selain itu, perlambatan permintaan ekspor dari negara tujuan utama seperti Tiongkok dan Eropa turut memberi tekanan. Beberapa negara mulai beralih menggunakan minyak nabati alternatif yang lebih murah, seperti minyak kedelai. Kondisi ini diperparah dengan penumpukan stok CPO di tangki timbun pelabuhan ekspor.

Indeks K Naik, Tanda Petani Masih Untung?

Meski harga TBS turun tipis, Ichwansyah menilai kondisi petani sawit di Sumsel masih cukup baik. Hal ini terlihat dari kenaikan indeks K yang kini mencapai 93,29 persen, naik dibandingkan periode sebelumnya yang sekitar 92 persen.

“Yang paling penting untuk sawit sebenarnya indeks K. Sekarang sudah 93 persen, artinya porsi harga yang diterima petani meningkat walaupun harga TBS turun tipis,” jelasnya.

Indeks K merupakan indikator yang menunjukkan proporsi harga yang diterima petani dari harga jual CPO dan inti sawit. Semakin tinggi angkanya, semakin besar bagian keuntungan yang dinikmati petani.

Berapa Harga CPO dan Inti Sawit Saat Ini?

Dalam penetapan periode II Mei 2026, harga rata-rata CPO tercatat sebesar Rp15.058,72 per kg, sedangkan harga inti sawit atau kernel berada di angka Rp14.619,74 per kg. Angka ini menjadi acuan bagi pabrik kelapa sawit dalam menentukan harga beli TBS dari petani.

Apa Dampak Penurunan Harga Sawit bagi Petani Sumsel?

Penurunan harga TBS memang tidak signifikan, hanya berkisar puluhan rupiah per kilogram. Namun bagi petani dengan luasan lahan yang besar, selisih ini tetap terasa. Meski demikian, kenaikan indeks K menjadi kabar baik karena margin yang diterima petani justru membaik.

Ke depan, pergerakan harga sawit akan sangat tergantung pada permintaan global dan kebijakan perdagangan negara-negara importir. Jika permintaan dari Tiongkok dan Eropa kembali pulih, harga TBS di Sumsel berpotensi kembali menguat.

Bagikan
Sumber: sumsel.akurat.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks