PALEMBANG — Pemerintah pusat memberikan atensi khusus terhadap kesiapsiagaan Sumatera Selatan dalam menghadapi musim kemarau 2026. Reaktivasi Desk Koordinasi Penanggulangan Karhutla Nasional menjadi sinyal penguatan pemantauan, koordinasi, hingga penegakan hukum yang lebih tegas di lapangan. Langkah ini bertujuan memastikan api tidak meluas di lahan gambut maupun mineral kering yang menjadi karakteristik wilayah Sumsel.
Reaktivasi Desk Koordinasi dan Penguatan Sinergi Lintas Sektor
Menko Polkam Djamari Chaniago menegaskan bahwa pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun ini harus dilakukan lebih cepat dan terpadu. Fokus utama pemerintah adalah pencegahan sebelum api muncul di permukaan. Melalui Desk Koordinasi ini, komunikasi publik dan pemantauan hotspot akan dilakukan secara nasional untuk memastikan respons cepat di setiap titik api.
“Pengendalian Karhutla harus dilakukan lebih dini, lebih cepat, lebih terpadu, dan lebih tegas, dengan mengutamakan pencegahan sebelum api meluas,” ujar Menko Polkam Djamari Chaniago saat memimpin Apel Kesiapsiagaan di Griya Agung, Palembang.
Sumatera Selatan dipilih menjadi lokasi apel nasional karena riwayat kebakaran berulang serta status strategisnya dalam upaya penurunan emisi nasional. Menko Polkam mengingatkan agar seluruh kepala daerah dan Forkopimda tidak lengah, mengingat prediksi cuaca tahun 2026 menunjukkan kondisi yang lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya.
Tren Penurunan Luas Karhutla di Sumatera Selatan
Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, Sumatera Selatan mencatatkan progres positif dalam penekanan angka kebakaran lahan dalam dua tahun terakhir. Luas karhutla di provinsi ini turun signifikan dari 15.422 hektare pada 2024 menjadi 5.939 hektare pada 2025. Hingga April 2026, laporan sementara mencatat luas kebakaran baru mencapai 79,95 hektare.
Meski tren menurun, kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama. Pasalnya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan berlangsung secara bertahap mulai April dengan puncak pada Agustus. Fenomena El Niño diperkirakan berkembang pada periode Juli hingga September, yang berpotensi memperparah risiko kebakaran di lahan-lahan kritis.
APP Group Siagakan Teknologi dan 907 Personel RPK
Sektor swasta turut memperkuat barisan penanggulangan. APP Group bersama mitra pemasoknya di Sumatera Selatan, seperti PT Bumi Mekar Hijau hingga PT Tri Pupajaya, mengerahkan sumber daya manusia dan teknologi mutakhir. Sebanyak 907 personel Regu Penanggulangan Kebakaran (RPK) inti dan 48 personel Tim Reaksi Cepat (TRC) telah disiagakan di berbagai pos pantau.
Direktur APP Group, Suhendra Wiriadinata, menjelaskan bahwa pihaknya mengedepankan pendekatan Integrated Fire Management (IFM). Strategi ini bertumpu pada empat pilar utama: pencegahan, persiapan, deteksi dini, dan respons cepat. Perusahaan juga menyiagakan tiga helikopter untuk patroli udara dan water bombing guna mendukung percepatan pemadaman.
“Melalui pendekatan Integrated Fire Management, kami memastikan seluruh upaya penanggulangan Karhutla dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pencegahan berbasis masyarakat hingga pemantauan berbasis teknologi. Kami meyakini kolaborasi erat dengan pemerintah dan masyarakat adalah kunci efektivitas di lapangan,” ungkap Suhendra.
Program DMPA di 31 Desa Rawan Kebakaran
Upaya pencegahan di wilayah operasional mitra APP Group difokuskan pada pemberdayaan masyarakat di Kabupaten OKI, Banyuasin, dan Musi Banyuasin. Melalui program Desa Makmur Peduli Alam (DMPA), perusahaan telah merangkul 31 desa untuk menerapkan pola pengelolaan lahan tanpa bakar. Program ini juga melibatkan 633 anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) yang aktif melakukan patroli terpadu bersama TNI dan Polri.
Selain sumber daya manusia, teknologi deteksi dini kini diperkuat dengan penggunaan drone pemantau titik api dan Automatic Weather Station (AWS). Sistem komunikasi terintegrasi ini memungkinkan data lapangan terkirim secara real-time ke pusat komando, sehingga setiap indikasi munculnya asap dapat segera ditindaklanjuti sebelum menjadi kebakaran besar.