Pencarian

TN Ujung Kulon Jadi Habitat Terakhir Badak Jawa, Wisata Alam Wajib Terkendali

Rabu, 23 September 2026 • 12:33:31 WIB
TN Ujung Kulon Jadi Habitat Terakhir Badak Jawa, Wisata Alam Wajib Terkendali
TN Ujung Kulon di Banten menjadi satu-satunya habitat badak jawa yang tersisa di dunia.

SUMATERA SELATAN — Taman Nasional Ujung Kulon di Kabupaten Pandeglang, Banten, menjadi satu-satunya rumah bagi badak jawa (Rhinoceros sondaicus) yang tersisa di dunia. Kawasan ini masuk dalam Wildlife Experience Index yang dirilis perusahaan perjalanan Bailey Robinson sebagai salah satu pengalaman wisata satwa liar paling menarik. Minat wisatawan yang naik memunculkan pertanyaan soal batas aman kunjungan di habitat satwa paling langka di Indonesia itu.

Dosen Fakultas Kedokteran Hewan IPB University, Dr drh Muhammad Agil, MSc.Agr, menilai wisata dan konservasi bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya bisa berjalan beriringan selama kawasan konservasi tidak dibanjiri wisatawan dalam jumlah berlebihan.

"Yang perlu dihindari adalah mass tourism. Selama pengelolaannya tepat, wisata justru bisa menjadi sarana edukasi dan meningkatkan kepedulian terhadap konservasi," kata Agil kepada detikTravel, Selasa (23/9/2026).

Daya Tarik Ujung Kulon: Habitat Badak Jawa Terakhir

Ujung Kulon menyimpan hutan hujan tropis, pantai, dan keanekaragaman hayati tinggi di ujung barat Pulau Jawa. Yang membuatnya berbeda dari taman nasional lain adalah statusnya sebagai satu-satunya habitat badak jawa yang masih tersisa.

Badak jawa termasuk satwa paling langka di dunia. Populasinya hanya ada di kawasan ini, sehingga setiap gangguan terhadap habitat berdampak langsung pada kelangsungan spesies.

Masuk Wildlife Experience Index Bailey Robinson

Bailey Robinson merangkum 30 pengalaman wisata satwa liar paling menarik dunia lewat Wildlife Experience Index. Penilaian mencakup enam faktor: kelangkaan satwa, keterpencilan lokasi, nilai konservasi, eksklusivitas, aksesibilitas, dan peluang bertemu satwa.

Indonesia menempatkan dua wakil dalam daftar tersebut, yakni TN Ujung Kulon dan hutan Kalimantan untuk berjumpa dengan orang utan. Pencapaian itu sekaligus menandai naiknya minat wisatawan terhadap kawasan konservasi.

Wisata Alam vs Mass Tourism

Agil menegaskan tujuan utama kunjungan ke kawasan konservasi bukan sekadar rekreasi. Wisatawan perlu memahami bahwa ekosistem di dalamnya harus tetap terjaga.

"Ke taman nasional bukan untuk main dan hura-hura, tapi adalah untuk memahami alam bahwa ekosistem di sana itu harus terjaga. Dan artinya ekosistem yang terjaga itu semua elemen di sana itu harusnya tetap ada. Kalau punah kan salah satu faktor menjaga keselarasan ekosistem akan hilang, rantai makanan putus," ujarnya.

Dalam praktiknya, wisata alam di kawasan konservasi berbeda dengan wisata massal yang mengejar jumlah kunjungan. Pengelola biasanya membatasi akses, mengatur jalur kunjungan, dan menetapkan aturan ketat untuk meminimalkan gangguan terhadap satwa.

Ukuran Keberhasilan Bukan Jumlah Pengunjung

Agil menilai ukuran keberhasilan wisata di kawasan konservasi bukanlah jumlah pengunjung yang terus meningkat. Indikatornya adalah kemampuan menjaga keseimbangan antara pengalaman wisata dan perlindungan alam.

"Orang datang bukan hanya untuk berwisata, tetapi juga belajar memahami alam dan pentingnya konservasi," kata Agil.

Tips Berkunjung ke TN Ujung Kulon

  • Kunjungan dilakukan dengan izin resmi dari pengelola taman nasional, biasanya lewat operator wisata terdaftar.
  • Jalur dan akses dibatasi untuk meminimalkan gangguan terhadap habitat badak jawa dan satwa lain.
  • Waktu terbaik berkunjung adalah musim kemarau, sekitar April hingga Oktober, saat laut lebih tenang untuk penyeberangan.
  • Perlengkapan wajib: alas kaki anti-selip, pelindung hujan, obat anti-nyamuk, dan bekal air yang cukup.
  • Etika utama: tidak mendekati satwa, tidak membuang sampah, dan mengikuti arahan pemandu.
  • Informasi terkini soal kuota, tarif, dan rute dapat dikonfirmasi ke Balai TN Ujung Kulon atau dinas pariwisata setempat.

Durasi ideal untuk menjelajah Ujung Kulon adalah dua hingga tiga hari, cukup untuk merasakan hutan tropis, pantai, sekaligus memahami mengapa kawasan ini dijaga ketat. Kunjungan yang terukur justru memberi pengalaman lebih bermakna dibanding wisata massal yang mengejar jumlah.

Follow inisumsel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: travel.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks