SUMATERA SELATAN — Dewan Film Israel mengusulkan penghapusan festival film dari sistem poin penentu anggaran dana film negara, menyusul kontroversi dokumenter Naza di Festival Film Venesia. Usulan itu disampaikan dalam rapat darurat setelah Naza memenangkan Special Jury Prize dan mendapat ovasi 25 menit. Dewan juga merekomendasikan jalur pendanaan baru untuk film yang mengangkat heroisme tentara Israel.
Dewan Film Israel menggelar rapat darurat dan menghasilkan dua rekomendasi yang berpotensi mengubah lanskap industri perfilman negara itu. Rapat dipicu oleh keputusan Festival Film Venesia yang menayangkan perdana dokumenter Naza, film yang mengungkap dugaan penargetan sengaja warga sipil di Gaza oleh Israel.
Dokumenter tersebut mendapat ovasi 25 menit di Venesia dan membawa pulang Special Jury Prize. Seleksi Venesia itu memicu badai politik di dalam negeri Israel.
Usulan Hapus Festival dari Sistem Poin
Dewan Film Israel, badan yang mengadvasi kebijakan film Kementerian Kebudayaan Israel, merekomendasikan agar festival film dikeluarkan dari sistem poin yang menentukan besaran anggaran dana film negara. Selama ini, jumlah seleksi di festival kelas A menjadi salah satu kriteria penilaian kinerja lembaga dana.
Dalam catatan yang diteruskan ke Deadline oleh seorang produser Israel, dewan menjelaskan alasan di balik usulan tersebut.
"Langkah ini dimaksudkan untuk melawan kampanye smear dan defamasi yang dilancarkan terhadap Israel di seluruh dunia, sekaligus memperkuat film yang mencerminkan kehidupan Israel dan memori heroisme tentara yang gugur," tulis dewan.
Menurut dewan, penghapusan kriteria festival berpotensi semakin mengisolasi industri film Israel. Reputasi internasional industri itu memang telah merosot tajam sejak operasi militer Israel di Gaza, yang dipicu serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Jalur Pendanaan Baru untuk Film Tentara
Rekomendasi kedua adalah pembentukan jalur pendanaan negara yang secara khusus mendukung film bertema heroisme tentara Israel. Dewan menyebut strand ini akan menampung film "yang berpusat pada heroisme tentara IDF dan veteran perang Israel yang berjuang mempertahankan eksistensi negara, sesuai semangat Undang-Undang Hari Peringatan untuk Tentara yang Gugur."
Anggaran film negara Israel saat ini berada di kisaran 130 juta shekel atau sekitar 42 juta dolar AS, terbagi ke enam lembaga dana. Lembaga-lembaga itu mengajukan tender untuk pendanaan negara, dengan penilaian berbasis sistem poin yang mengevaluasi performa terkini mereka.
Produser Israel yang berbicara kepada Deadline menyebut usulan dewan sebagai "retorika kosong". Pasalnya, Naza tidak dibiayai dana negara Israel maupun lembaga penyiaran lokal.
"Naza tidak dibiayai dana Israel atau televisi Israel, pasti. Mereka tidak mendekati mereka, tidak mengajukan. Itu sebabnya rekomendasi ini lucu. Pertama, mereka ingin mencabut poin festival... lalu mereka ingin mengglorifikasi IDF. Ini benar-benar seperti Korea Utara. Lebih lucu daripada menyedihkan... bodoh," ujarnya.
Naza diproduksi Guardian Documentaries bersama JW Films, bekerja sama dengan Placeholder Films dan Unseen Hand. Film ini dibangun dari kesaksian 24 perwira intelijen dan tentara Israel, yang belakangan dibantah oleh militer Israel.
Ancaman Netanyahu dan Solidaritas Sineas
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengancam akan mencabut kewarganegaraan dua sutradara Naza, Yuval Abraham dan Rachel Szor. Ancaman itu memicu gelombang solidaritas dari sineas ternama Israel.
Sutradara Ari Folman, Shlomi Elkabetz, Ran Tal, dan Michal Aviad menandatangani petisi yang menyatakan dukungan untuk Abraham dan Szor. Di sisi lain, Netanyahu juga mempercepat dua RUU melalui parlemen sebagai respons atas Naza.
RUU pertama mencabut kewarganegaraan siapa pun yang "mendefamasi tentara Israel". RUU kedua meningkatkan potensi tuntutan ganti rugi. Kedua langkah itu menambah tekanan pada industri film Israel yang kini terjepit antara boikot internasional dan pemerintah nasionalis sayap kanan.
Rekomendasi Dewan Film Israel belum tentu diadopsi, tetapi arahnya jelas: memperketat kriteria pendanaan dan menggeser prioritas ke narasi yang sejalan dengan pemerintah. Bagi sineas Israel yang selama ini mengandalkan jalur festival untuk eksposur internasional, usulan itu menjadi pukulan tambahan di tengah posisi industri yang kian terisolasi.