SUMATERA SELATAN — Keputusan bersejarah itu diambil dalam Kongres Umat Islam yang berlangsung di kediaman KH Hasyim Asy'ari di Tebuireng, Jombang. Para kiai dan tokoh Islam yang hadir menyepakati bahwa mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman penjajahan kembali merupakan kewajiban suci bagi setiap muslim. Resolusi tersebut secara eksplisit menyatakan bahwa perjuangan melawan pasukan Sekutu yang mengatasnamakan Belanda adalah jihad fi sabilillah.
Mengapa Fatwa Ini Lahir di Tengah Ketidakpastian Politik
Konteks politik saat itu berada dalam kekacauan. Proklamasi 17 Agustus 1945 belum diakui kekuatan internasional, dan pasukan Sekutu yang diboncengi NICA (Netherlands Indies Civil Administration) mulai mendarat di berbagai kota besar. Di Surabaya, ultimatum Sekutu agar rakyat menyerahkan senjata memicu ketegangan yang berujung pada insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato pada September 1945.
KH Hasyim Asy'ari menilai situasi ini bukan sekadar konflik militer biasa. Baginya, kembalinya pasukan kolonial merupakan ancaman eksistensial bagi bangsa yang baru saja memproklamasikan kemerdekaan. Resolusi Jihad menjadi instrumen mobilisasi massa yang tidak bisa dilakukan pemerintah pusat yang belum memiliki kekuatan militer memadai saat itu.
Peran Pesantren dan Jaringan Kiai dalam Mobilisasi Massa
Keunggulan strategis yang dimiliki KH Hasyim Asy'ari adalah jaringan pesantren yang tersebar di seluruh Jawa. Melalui jaringan ini, fatwa jihad disebarkan dengan cepat ke berbagai daerah. Para santri dan masyarakat pedesaan yang selama ini menjadi basis massa Nahdlatul Ulama (NU) bergerak menuju Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan.
Sejarawan mencatat bahwa keterlibatan santri dan kiai dalam pertempuran Surabaya tidak hanya menambah jumlah pejuang, tetapi juga mengubah mentalitas perlawanan. Semangat juang yang didasari keyakinan agama membuat pasukan rakyat tidak gentar menghadapi persenjataan modern Sekutu. Pidato Bung Tomo yang membakar semangat arek-arek Suroboyo berpadu dengan tekad religius para santri yang datang dari berbagai penjuru Jawa.
Warisan Kepemimpinan yang Melampaui Medan Perang
Keputusan berani KH Hasyim Asy'ari dalam mengeluarkan fatwa tersebut menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya dilakukan melalui jalur diplomasi dan perjuangan bersenjata. Ia membuktikan bahwa otoritas keagamaan memiliki peran strategis dalam menentukan arah perjuangan bangsa pada momen krusial.
Kiprah pendiri NU ini tidak berhenti pada masa perjuangan fisik. Prinsip-prinsip yang ia tanamkan tentang pentingnya persatuan umat dan cinta tanah air terus menjadi fondasi pergerakan organisasi Islam terbesar di Indonesia itu. Hingga kini, cara pandang kebangsaan yang moderat dan cinta tanah air yang ia ajarkan menjadi rujukan dalam merespons berbagai tantangan kontemporer.
Kisah keteguhan KH Hasyim Asy'ari dalam melawan penjajahan mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hasil kerja kolektif dari berbagai elemen bangsa, termasuk peran sentral para ulama dan santri yang sering kali luput dari narasi sejarah arus utama.