SUMATERA SELATAN — Tinder meluncurkan fitur Group Hangouts yang memungkinkan sekelompok teman mencari dan mencocokkan grup lain berdasarkan aktivitas bersama. Fitur ini bergulir bertahap di Amerika Serikat dan sejumlah pasar pilihan, dengan ekspansi ke wilayah lain menyusul. Langkah ini menandai pergeseran Tinder dari kencan satu-lawan-satu ke pengalaman sosial berbasis pertemuan langsung.
Tinder merancang Group Hangouts sebagai jawaban atas perubahan perilaku pengguna muda yang mulai lelah dengan aktivitas geser kartu tanpa ujung. Fitur ini membuka ruang bagi grup berisi minimal tiga orang untuk tampil di tumpukan kartu utama aplikasi dan ditemukan oleh grup lain.
Cara Kerja Group Hangouts
Pengguna memulai dengan memilih satu aktivitas, lalu mengundang minimal dua teman untuk bergabung. Setelah grup berisi setidaknya tiga anggota, profil grup bisa muncul di kartu utama Tinder dan dilihat grup lain. Kapasitas maksimal satu grup adalah 15 orang.
Setiap grup dapat menelusuri grup lain dan memberi suka pada grup yang menarik perhatian. Jika minimal satu orang dari masing-masing grup saling menyukai, kedua grup terhubung dalam ruang obrolan bersama. Dari situ, mereka bebas menyusun rencana kegiatan.
Tinder memberi sejumlah kendali kepada pengguna. Anggota bisa keluar dari percakapan tanpa harus meninggalkan grup pertemanan. Mereka juga dapat memblokir atau melaporkan peserta lain jika merasa tidak nyaman.
Posisi Fitur di Aplikasi dan Ketersediaan Pasar
Group Hangouts ditempatkan di bagian atas layar utama Tinder. Peluncurannya dilakukan bertahap di Amerika Serikat dan sejumlah pasar terpilih, dengan pasar tambahan menyusul kemudian. Tinder belum merinci daftar lengkap negara yang kebagian lebih dulu, termasuk apakah Indonesia masuk dalam gelombang awal.
Kelanjutan dari Double Date dan Events
Fitur ini melanjutkan dorongan Tinder ke kencan berbasis grup. Tahun lalu, perusahaan merilis Double Date yang memungkinkan pengguna berpasangan dengan seorang teman dan menelusuri pasangan lain. Group Hangouts memperluas konsep itu dengan melibatkan lebih banyak orang dan menggeser pengalaman dari kencan berdua ke kegiatan sosial bersama.
Claire Watanabe, VP product management Tinder, menyebut salah satu inspirasinya datang dari tim bola voli putri kampus yang membuat profil Tinder saat bertandang untuk pertandingan. Tujuannya menjelajahi kota baru dan berkenalan dengan warga setempat.
"In practice, we're seeing groups stay pretty tight, most people are hanging out with their close circle of friends, not organizing something huge," kata Watanabe kepada TechCrunch melalui surel.
Tinder juga sudah lebih dulu mendorong pengalaman dunia nyata. Pada Maret lalu, perusahaan meluncurkan tab Events yang memungkinkan pengguna menemukan kegiatan lokal seperti speakeasy, bowling, dan kelas keramik. Bulan ini, Tinder memperluas acara tatap muka ke puluhan kota tambahan.
Tekanan Bisnis di Balik Pergeseran Strategi
Langkah ini muncul saat Tinder berupaya menarik kembali pengguna di tengah masa sulit. Pendapatan Tinder turun pada kuartal terakhir, sementara pengguna aktif bulanan merosot 7% pada kuartal kedua. Penurunan itu menyusul kontraksi 8% pada kuartal sebelumnya.
Bumble bergerak ke arah serupa. Fitur "Plans" miliknya dirancang menghubungkan orang secara langsung dalam suasana santai dan berorientasi grup.
Ekspansi Group Hangouts ke lebih banyak pasar akan menjadi ujian apakah pendekatan sosial berbasis grup mampu menahan laju penurunan pengguna Tinder. Bagi pasar Indonesia, kehadiran fitur ini baru bisa dipastikan setelah Tinder mengumumkan jadwal resmi perluasan wilayahnya.