SUMATERA SELATAN — Pertamina EP meraih penghargaan tingkat nasional dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) berkat tiga program pemberdayaan masyarakat di Subang, Indramayu, dan Bekasi. Penghargaan yang digelar bersama Indonesia Social Sustainability Forum (ISSF) ini menilai keberhasilan program CSR yang mampu mendorong kemandirian ekonomi warga, bukan sekadar bantuan operasional.
Paragraf pembuka: Tiga program yang dinilai adalah Jari Tangan (Kerja Tani Berdikari dan Tahan Pangan) di Jatibarang Field, Purnama Subang (Purna Pekerja Migran Indonesia Berdaya Menjaga Lingkungan Bersama) di Subang Field, serta Rangkul Raga Bumi di Tambun Field. Ketiganya dikembangkan dengan pendekatan berbeda, menyesuaikan potensi dan kebutuhan masyarakat di sekitar wilayah operasi Pertamina EP.
Jari Tangan: Pertanian Berkelanjutan di Jatibarang
Di Jatibarang Field, program Jari Tangan menyasar sektor pertanian dan pangan. Pertamina EP mendorong warga mengembangkan budidaya hortikultura berkelanjutan sekaligus memanfaatkan limbah organik menjadi produk bernilai guna.
Pendekatannya melibatkan kelompok masyarakat secara langsung. Manfaat yang diharapkan bukan hanya hasil produksi, tetapi juga peningkatan pengetahuan dan keterampilan warga agar mampu mengelola usaha tani secara mandiri.
Purnama Subang: Bekali Purna Pekerja Migran
Subang Field menjalankan Purnama Subang yang menyasar purna pekerja migran Indonesia (PMI) dan kelompok rentan. Program ini memperkuat usaha masyarakat melalui pertanian terpadu, pengelolaan limbah, serta edukasi bagi warga dan lingkungan sekolah.
Pendekatan tersebut membuka peluang ekonomi baru bagi para purna PMI yang kembali ke kampung halaman, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan di sekitar mereka.
Rangkul Raga Bumi: Literasi Energi untuk Pelajar
Di Tambun Field, program Rangkul Raga Bumi bergerak di bidang edukasi lingkungan dan literasi energi bagi generasi muda. Salah satu kegiatannya adalah eco-school yang mengajak pelajar memahami pengelolaan lingkungan.
Pelajar juga dikenalkan pada peran strategis industri hulu migas dalam mendukung ketahanan energi nasional. Pendekatan ini menyasar kelompok usia muda sebagai penerus pengelolaan lingkungan di wilayah operasi.
Kata Pertamina EP
Pinto Budi Bowo Laksono, Manager Communication, Relations & CID Regional Jawa, menyebut penghargaan ini sebagai apresiasi sekaligus motivasi. "Penghargaan ini menjadi apresiasi sekaligus motivasi bagi Pertamina EP untuk terus menghadirkan program pemberdayaan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," ujarnya.
Ia menegaskan setiap program tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. "Kami ingin setiap program tidak berhenti pada kegiatan, tetapi mampu membangun kapasitas, kemandirian, dan keberlanjutan sehingga manfaatnya dapat terus dirasakan oleh masyarakat," kata Pinto.
Menurut Pinto, keberhasilan program pemberdayaan tidak hanya diukur dari penghargaan. Ukuran sesungguhnya adalah kemampuan masyarakat melanjutkan dan mengembangkan manfaat yang telah dibangun bersama.
Arah Program ke Depan
Pertamina EP menyatakan akan terus mendorong pemberdayaan berbasis potensi lokal dan kebutuhan masyarakat. Kolaborasi dengan kelompok masyarakat dan pemangku kepentingan menjadi bagian penting untuk memastikan program memberi nilai tambah bagi pembangunan berkelanjutan di sekitar wilayah operasi.
Penutup: Bagi Pertamina EP, penghargaan Kemendes PDT ini menegaskan bahwa program CSR yang dirancang bersama warga berpeluang lebih lestari dibanding bantuan sesaat. Ke depan, tantangannya adalah menjaga tiga program tersebut tetap berjalan dan berkembang tanpa bergantung pada pendampingan perusahaan.