Pencarian

1.737 Titik Panas Terpantau di Sumsel, 404 Hektare Lahan Terbakar per 14 September

Kamis, 17 September 2026 • 15:01:31 WIB
1.737 Titik Panas Terpantau di Sumsel, 404 Hektare Lahan Terbakar per 14 September

PALEMBANG — Rapat evaluasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) digelar di Kantor BPBD Provinsi Sumatera Selatan, Palembang, Selasa (15/9). Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto hadir langsung dalam rapat tersebut. Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyampaikan perkembangan penanganan karhutla di wilayahnya, sementara BMKG memaparkan kondisi cuaca dan potensi yang dapat memengaruhi perkembangan kebakaran.

Data rapat koordinasi per Selasa (15/9) menunjukkan 1.737 titik panas tersebar di wilayah Sumatera Selatan. Sementara data Posko Satgas Karhutla Sumsel per 14 September mencatat luas lahan terbakar mencapai 404,22 hektare.

Lima Wilayah Jadi Fokus Penanganan Karhutla Sumsel

Kabupaten Ogan Komering Ilir, Muara Enim, Banyuasin, Penukal Abab Lematang Ilir, dan Kota Palembang menjadi wilayah yang paling diperhatikan dalam penanganan karhutla periode ini. Personel BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat bergerak sesuai perannya masing-masing.

Dari darat, petugas melakukan pemadaman dan pendinginan. Dari udara, pemantauan dilakukan untuk melihat perkembangan titik api dan menjangkau wilayah yang sulit diakses.

Mengapa Api di Lahan Gambut Sulit Benar-Benar Padam

Angka hotspot bukan satu-satunya ukuran keberhasilan penanganan. Setiap titik harus diverifikasi karena kondisi lapangan bisa berbeda. Karakteristik lahan gambut membuat api mampu bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul bila pendinginan tidak dilakukan menyeluruh.

Ketika api terlihat padam, pekerjaan belum tentu selesai. Petugas masih harus membasahi, mendinginkan, dan memantau berulang untuk memastikan tidak ada bara tersisa. Di sejumlah lokasi, proses itu membutuhkan waktu berhari-hari.

Jarak Pandang di Tanjung Api-Api Sempat 2–4 Kilometer

Dampak karhutla tidak berhenti di lokasi kebakaran. Pada 13 September, jarak pandang di kawasan Tanjung Api-Api, Sumatera Selatan, sempat berada di kisaran 2–4 kilometer pada dini hingga pagi hari akibat asap.

Asap dapat bergerak mengikuti kondisi angin dan memengaruhi aktivitas warga, transportasi, hingga kesehatan. Kondisi itu menegaskan penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan petugas pemadam.

BNPB dan Menteri Kehutanan Beri Arahan Strategi Penanganan

Kepala BNPB dan Menteri Kehutanan memberikan arahan agar seluruh sumber daya yang tersedia digunakan secara efektif. Penguatan koordinasi, pemantauan titik panas, percepatan respons, dan memastikan api benar-benar padam menjadi bagian penting dalam strategi penanganan.

BMKG terus memasok informasi kondisi cuaca, hari tanpa hujan, dan potensi curah hujan. Data itu menjadi dasar menentukan prioritas operasi sekaligus mengantisipasi kemunculan titik api baru.

Pencegahan Dini Lebih Menentukan daripada Kecepatan Pemadaman

Menghadapi karhutla bukan sekadar soal seberapa cepat api dipadamkan, tetapi seberapa dini api dicegah membesar. Di tengah musim kemarau, satu titik api yang terlambat ditangani bisa berubah menjadi kebakaran luas.

Satu laporan warga yang cepat, satu patroli yang tepat waktu, atau satu proses pendinginan yang tuntas dapat mencegah api berkembang. Angka hotspot memang menunjukkan penurunan, tetapi ancaman belum sepenuhnya berakhir.

Pemerintah bersama seluruh unsur penanganan bencana terus memantau perkembangan di lapangan untuk memastikan kebakaran tidak meluas dan dampaknya terhadap masyarakat dapat ditekan.

Follow inisumsel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: detak.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks