SUMATERA SELATAN — Sutradara Hong Kong Tsui Hark menyampaikan penghormatan emosional kepada Nansun Shi, mantan istri sekaligus mitra produksinya, dalam sesi masterclass di Lumière Film Festival di Lyon, Prancis. Produser perintis yang meninggal 13 Juli di usia 75 tahun itu disebutnya berjasa mendampingi banyak proyek selama bertahun-tahun. Di forum yang sama, Tsui membeberkan rencana film komedi berbahasa London dan pandangannya soal AI.
Tsui Hark membuka masterclass-nya dengan menonton montase perjalanan kariernya. Setelah itu, ia mengambil waktu sejenak sebelum berbicara tentang Nansun Shi, perempuan yang bersamanya mendirikan Film Workshop pada 1984.
Shi meninggal pada 13 Juli di usia 75 tahun. Ia dikenal sebagai salah satu figur paling berpengaruh di perfilman Hong Kong, membantu membawa karya-karya besar industri itu ke penonton internasional.
Meski keduanya bercerai, kerja sama profesional Tsui dan Shi tidak pernah putus. Pada 2025, Hong Kong Film Awards menganugerahi keduanya Lifetime Achievement Award secara bersama.
Pesan Emosional untuk Nansun Shi
Dengan suara yang jelas terharu, Tsui menyampaikan rasa kehilangannya di hadapan peserta masterclass.
"I miss my partner, Nansun, who helped me on so many projects over so many years," ujarnya.
Ia melanjutkan, "I would say that my coming here is also a tribute to her. I hope that if she is around us spiritually, she's happy about what we are doing here."
Tsui berada di Lyon untuk retrospective karyanya sekaligus masterclass yang membahas perjalanan kariernya. Lumière Film Festival menayangkan empat filmnya: "Shanghai Blues" (1984), "Peking Opera Blues" (1986), "Once Upon a Time in China" (1991), dan "Time and Tide" (2000).
Film Komedi Baru di London
Di sesi yang sama, Tsui mengungkap proyek terbarunya. Ia sedang menggarap sebuah komedi yang berlatar di London dan mempertemukan budaya Timur dan Barat.
"I'm working on a comedy in London," katanya. Ia menjelaskan ceritanya akan menyatukan orang-orang dari budaya berbeda untuk menghadapi masalah serius.
"I think we need to put people of different cultures together nowadays to face something serious, so that we have a funny angle looking at this kind of collaboration."
Tsui juga membahas gagasan menciptakan versi surealis sebuah kota seperti Hong Kong atau Beijing yang dibayangkan di masa depan. Menurutnya, realitas saat ini terlalu nyata sehingga penonton butuh sesuatu yang lebih menginspirasi.
Pandangan soal AI dan Identitas
Sebagai pembuat film yang mengaku selalu berpikir lima tahun ke depan, Tsui menyoroti kaburnya batas antara kenyataan dan ilusi di era internet, iklan, propaganda politik, dan kecerdasan buatan.
"We are being very passive to our environment," ujarnya. "We have a