SUMATERA SELATAN — Manajemen EMAS tak main-main. Lewat program diamond deep drilling, mereka mengebor enam titik lubang di area konsesi seluas 14.670 hektar di Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato. Satu unit rig sudah beroperasi, satu lagi menyusul bulan depan.
“Seiring dimulainya produksi di Pani, kami kini berada di posisi lebih strategis untuk menguji potensi mineralisasi di area yang lebih dalam,” kata Boyke Abidin, Presiden Direktur Merdeka Gold Resources, dalam keterangan resmi.
Target 7 Juta Ons, Baru 135 Hektar yang Teruji
Sumber daya mineral Pani saat ini diestimasi 291,5 juta ton bijih dengan kadar emas 0,75 gram per ton. Angka itu setara 7,0 juta ons emas — dan baru berasal dari eksplorasi di lahan seluas 135 hektar. Artinya, baru 0,9 persen dari total konsesi yang terpetakan.
Eksplorasi sebelumnya sudah menunjukkan indikasi mineralisasi di luar batas pengeboran lama. Program bor 3.600 meter ini dirancang untuk mengejar kelanjutan urat emas di kedalaman yang belum tersentuh.
Biaya USD 2,4 Juta, Hasil Baru Terlihat 2026
Di area lain bernama Kolokoa, EMAS juga tak berhenti. Dalam enam bulan terakhir, perusahaan menuntaskan 54 lubang bor dengan total kedalaman 11.701,6 meter. Biaya yang dihabiskan sekitar USD 2,4 juta.
Hasil sementara menunjukkan target eksplorasi Kolokoa mencapai 20 juta hingga 40 juta ton dengan kadar emas 0,3 g/t sampai 0,5 g/t. Estimasi perdana sumber daya mineral di sana dijadwalkan diumumkan pada kuartal II 2026.
Bila seluruh program berjalan mulus, tambang Pani berpotensi menjadi salah satu tambang emas bawah tanah terbesar di Indonesia timur. Bagi investor, ini sinyal bahwa EMAS serius memperpanjang umur tambang dan menambah nilai cadangan.