Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 0,40 persen ke posisi 6.941 pada perdagangan Senin (11/5/2026), melanjutkan tekanan dari akhir pekan lalu. Meski indeks utama tertekan, sejumlah saham di sektor kesehatan dan infrastruktur justru mencatatkan kenaikan signifikan, dengan beberapa di antaranya menyentuh batas auto reject atas (ARA).
JAKARTA — Pelemahan IHSG pada awal pekan ini sejalan dengan tekanan di mayoritas bursa Asia. Seluruh sektor saham utama kompak berada di zona merah, dengan sektor material dasar menjadi yang paling terpukul, anjlok 7,80 persen. Sektor energi, industri, dan transportasi juga tercatat ambles masing-masing di atas 4,5 persen.
Kondisi ini masih menjadi efek lanjutan dari aksi jual besar-besaran pada akhir pekan lalu. Jumat (8/5/2026), IHSG ambrol 204,92 poin (2,86 persen) ke level 6.969. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat investor asing melakukan penjualan bersih (net sell) senilai Rp 389,31 miliar di seluruh pasar.
Emiten Tambang Big Collapse, Saham Kesehatan Justru ARA
Kejatuhan indeks pekan lalu dipicu oleh merosotnya saham-saham berkapitalisasi besar (big cap), terutama dari sektor tambang. Saham AMMN ambles 9,27 persen, TINS terkoreksi 14,88 persen, dan INDY melemah 14,82 persen. BREN dan EMAS masing-masing turun 11,83 persen dan 12,22 persen.
Di tengah tekanan tersebut, saham-saham sektor kesehatan justru melesat. Emiten bersandi MPOW tercatat naik 34,55 persen, disusul MEDS yang melonjak 34,48 persen menjadi Rp 117 per saham. IRRA menguat 25 persen ke Rp 510, sementara KAEF dan PEHA masing-masing tercatat naik 24,51 persen dan 24,83 persen.
Mengapa Saham FIRE, NIRO, dan MORA Bisa Melambung?
Selain saham kesehatan, beberapa saham di sektor lain juga berhasil mencatatkan kenaikan signifikan. Saham FIRE melompat 25 persen ke level Rp 170, NIRO melesat 19 persen menjadi Rp 238, dan MORA naik 15 persen ke Rp 8.650 pada sesi awal perdagangan.
Kenaikan ini terjadi di saat mayoritas saham sektor keuangan, konsumen primer, dan energi justru tertekan. Pola rotasi sektoral semacam ini kerap terjadi saat investor mulai mencari valuasi murah di sektor yang sebelumnya kurang dilirik atau terkena sentimen positif spesifik emiten.
Apa yang Terjadi dengan Saham Big Cap Pekan Lalu?
Penjualan bersih asing pada akhir pekan lalu terkonsentrasi di saham-saham perbankan dan tambang. Saham BMRI menjadi yang paling banyak dilego asing dengan nilai jual bersih mencapai Rp 436,38 miliar. Disusul BUMI dengan net sell Rp 82,88 miliar dan TINS sebesar Rp 76,45 miliar.
Tekanan jual ini memperkuat tren pelemahan indeks yang sudah terlihat sepanjang pekan lalu. Namun, munculnya aksi beli di saham-saham sektor kesehatan dan beberapa emiten spesifik menjadi sinyal bahwa dana investor mulai bergerak ke sektor defensif dan saham-saham dengan katalis individu.