SUMATERA SELATAN — Sumur L5A-309 sebelumnya merupakan sumur minyak yang nyaris mati. Sebelum ditangani, sumur ini hanya memproduksi 2,6 barel minyak per hari (BOPD) dengan kadar air mencapai 98 persen. Alih-alih dibiarkan, Pertamina EP bersama SKK Migas memutuskan untuk melakukan intervensi besar-besaran.
Pekerjaan workover dimulai pada 29 Juni 2026 dan rampung dalam waktu singkat, hanya lima hari—lebih cepat dari rencana awal sepuluh hari. Tim teknis Rig PDSI #34.1 (350 HP) menutup lapisan minyak TAF-W4 yang sudah tidak produktif, lalu membuka lapisan gas baru TAF-W3 pada kedalaman interval 1.594–1.600,5 meter.
Hasil uji produksi pada 6 Juli 2026 menunjukkan lonjakan signifikan. Sumur mampu menyemburkan gas bumi sebanyak 4,8 MMSCFD, enam kali lipat dari target yang ditetapkan sebesar 0,8 MMSCFD. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menegaskan bahwa sumur langsung dioperasikan (Put on Production/PoP) begitu uji produksi selesai.
“Pada saat yang sama, sumur dapat langsung diproduksikan,” kata Djoko dalam keterangan resminya.
Tak cuma soal kecepatan, proyek ini juga membuktikan pengelolaan anggaran yang ketat. Realisasi biaya di lapangan tercatat hanya US$252.067,64, atau sekitar 67,8 persen dari anggaran yang disetujui SKK Migas sebesar US$371.875. Dengan kata lain, ada penghematan lebih dari US$119.000 atau sekitar 32 persen dari anggaran awal.
Jika dikonversi dengan kurs estimasi Rp16.000 per dolar AS, penghematan tersebut setara dengan hampir Rp2 miliar. Efisiensi ini menjadi contoh konkret bagaimana perusahaan migas bisa menekan biaya tanpa mengorbankan hasil produksi.
Keberhasilan workover sumur L5A-309 menjadi bukti bahwa optimalisasi sumur eksisting masih menjadi jurus jitu menjaga produksi migas di tengah tantangan penemuan cadangan baru yang semakin sulit. Dengan metode pindah lapisan (recompletion), sumur-sumur yang dianggap 'basi' bisa kembali bernapas dan menghasilkan gas dalam jumlah signifikan.
Langkah ini sejalan dengan arahan SKK Migas untuk terus mendorong efisiensi operasional dan percepatan produksi dari aset-aset yang sudah ada. Bagi Pertamina EP, keberhasilan di Lapangan Limau ini bisa menjadi blueprint untuk proyek workover serupa di lapangan-lapangan tua lainnya di Indonesia.