Pencarian

Sumsel Siagakan OMC Hybrid pada 24–28 Oktober 2026, Semai NaCl Diarahkan ke Awan Hujan

Jumat, 23 Oktober 2026 • 20:01:02 WIB
Sumsel Siagakan OMC Hybrid pada 24–28 Oktober 2026, Semai NaCl Diarahkan ke Awan Hujan
Pesawat OMC menyemai bahan semai ke awan di wilayah Sumatera Selatan.

PALEMBANG — Pengamatan awal setelah aplikasi dry ice menunjukkan kecenderungan peningkatan jarak pandang dalam 1–2 jam. Penurunan konsentrasi partikel di udara tercatat dalam 3–4 jam setelah penyemaian.

Dua indikator itu menjadi dasar mengapa OMC terus dijalankan di Sumatera Selatan. Selain untuk mengurai kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), operasi ini mendukung penanganan dampak kabut asap di provinsi tersebut.

Mengapa Awan di Sumsel Diprediksi Tumbuh Masif

Pembaruan dinamika atmosfer menyebut Sumatera Selatan berpotensi mengalami pertumbuhan awan yang cukup masif. Potensi itu muncul pada 24, 25, 26, dan 28 Oktober 2026.

Menindaklanjuti kondisi tersebut, OMC dioptimalkan lewat metode hybrid. Dua bahan semai dipakai: dry ice dan NaCl.

NaCl Disemai ke Awan yang Berpotensi Menghasilkan Hujan

Pada periode 24–28 Oktober, penyemaian NaCl akan lebih dimaksimalkan. Sasaran penyemaian adalah awan-awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

Pemilihan NaCl pada rentang tanggal itu bukan tanpa alasan. Pertumbuhan awan yang masif membuka peluang lebih besar bagi proses pembentukan hujan, sehingga bahan semai diarahkan ke titik-titik yang paling menjanjikan.

Jarak Pandang Membaik 1–2 Jam Setelah Dry Ice

Hasil pengamatan awal setelah aplikasi dry ice memperlihatkan dua efek yang terukur. Jarak pandang cenderung meningkat dalam 1–2 jam, sementara konsentrasi partikel di udara menurun dalam 3–4 jam setelah aplikasi.

Dua capaian itu relevan langsung bagi warga yang terdampak kabut asap. Jarak pandang yang membaik menurunkan risiko gangguan aktivitas harian dan penerbangan, sedangkan penurunan partikel berarti kualitas udara di sekitar lokasi penyemaian ikut membaik.

Apa yang Dipantau Setelah Penyemaian

OMC di Sumatera Selatan dijalankan sebagai rangkaian, bukan sekali semai. Periode 24–28 Oktober menjadi tahap yang paling dimaksimalkan, dengan NaCl sebagai bahan semai utama untuk memicu hujan.

Keberhasilan tahap ini akan terlihat dari pertumbuhan awan yang disemai dan turunnya hujan di area sasaran. Pembaruan dinamika atmosfer berikutnya menjadi acuan untuk menentukan apakah operasi perlu dilanjutkan atau dihentikan.

Follow inisumsel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: extranews.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks