PALEMBANG — Penanganan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan masih menyisakan pekerjaan besar. Dari 63 kejadian karhutla yang ditemukan pada 16 September 2026, estimasi luas lahan terbakar mencapai 531,31 hektare.
Satgas darat baru menangani sekitar 214,06 hektare. Pemadaman lewat helikopter water bombing menjangkau sekitar 30 hektare. Sisanya, 287,25 hektare, masih belum bisa dipadamkan saat data paparan disusun.
Ogan Komering Ilir Jadi Titik Terbanyak
Sebaran hotspot terkonsentrasi di lima wilayah. Ogan Komering Ilir memuncaki daftar dengan 1.034 titik, disusul Musi Banyuasin 684 titik, Banyuasin 379 titik, dan Muara Enim 299 titik.
Penanganan saat ini difokuskan di Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, dan Muara Enim. Kelima daerah itu dinilai paling rentan terhadap perluasan kebakaran.
Data Komandan Operasi Satgas Karhutla Sumsel, Danrem 044/Gapo, menunjukkan total kejadian karhutla sejak 1 Januari hingga 16 September 2026 mencapai 3.098 kejadian.
12.285 Personel Dikerahkan di 1.101 Posko
Sebanyak 12.285 personel tergabung dalam Satgas Karhutla Sumsel. Mereka berasal dari BPBD, TNI, Polri, Lanud Sri Mulyono Herlambang, Manggala Agni, Polhut, Satpol PP, Kelompok Tani Peduli Api, Masyarakat Peduli Api, serta unsur pemadam dari perusahaan perkebunan.
Operasi diperkuat 1.101 posko karhutla yang tersebar di berbagai wilayah. Helikopter dipakai untuk patroli udara, verifikasi hotspot, penentuan titik api prioritas, water bombing, pemantauan, hingga evaluasi hasil pemadaman.
Operasi Modifikasi Cuaca juga dijalankan sebagai langkah preventif menghadapi kondisi kekeringan.
BNPB: Pemadaman Bukan Satu-satunya Fokus
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letjen TNI Dr. Suharyanto menegaskan penanganan karhutla tidak berhenti pada pemadaman api.
"Personel tidak hanya disiapkan untuk memadamkan api, tetapi digerakkan sejak fase pencegahan, deteksi dini, sampai dengan pemulihan pascakebakaran," ujar Suharyanto.
Menko Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago bersama Suharyanto meninjau langsung penanganan karhutla pada Jumat (18/9). Peninjauan itu untuk memastikan koordinasi lintas sektor dan operasi lapangan berjalan sesuai perkembangan situasi.
Dampak Asap dan Kualitas Udara Jadi Perhatian
Pemerintah memberi perhatian khusus pada dampak asap dan penurunan kualitas udara. Informasi soal kualitas udara diminta disampaikan cepat dan mudah dipahami warga, disertai langkah mitigasi serta koordinasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan.
Sumatera Selatan sebelumnya ditetapkan BNPB sebagai satu dari enam provinsi prioritas penanganan karhutla. Lima provinsi lain adalah Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
BNPB bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan unsur terkait terus mendorong pencegahan, deteksi dini, patroli, dan respons cepat untuk menekan risiko kebakaran meluas di wilayah rentan.