SUMATERA SELATAN — Kabar penjualan Leicester City mencuat di tengah krisis finansial yang menimpa klub sejak 2021. Proposal bertajuk 'Project Lineup' ditawarkan kepada calon investor dengan mencakup seluruh portofolio klub, termasuk Stadion King Power, pusat pelatihan Seagrave, dan Belvoir Drive yang nilainya ditaksir mencapai 204 juta Pounds.
Keluarga Srivaddhanaprabha, pemilik klub asal Thailand, sebelumnya menolak wacana penjualan. Namun, kerugian beruntun yang mencapai puluhan juta Pounds setiap tahun memaksa mereka angkat bendera putih dan mencari pemilik baru.
Mengapa Leicester City Jatuh dari Puncak ke Jurang Degradasi?
Kisah Leicester City adalah salah satu keajaiban terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris. Pada 2016, tim asuhan Claudio Ranieri mengejutkan dunia dengan menjuarai Premier League di tengah dominasi klub-klub raksasa. Jamie Vardy dan kawan-kawan mengunci gelar setelah Tottenham ditahan imbang Chelsea pada tiga laga terakhir musim itu.
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari investasi besar Vichai Srivaddhanaprabha, pengusaha Thailand yang membeli klub pada 2010. Namun, setelah gelar bersejarah itu, Leicester gagal mempertahankan skuad intinya. N'Golo Kante pindah ke Chelsea, Riyad Mahrez diboyong Manchester City, dan sejumlah punggawa lain ikut hengkang.
Duka Vichai dan Rentetan Kerugian yang Menggunung
Tragedi datang pada 2018 ketika Vichai tewas dalam kecelakaan helikopter di dekat Stadion King Power. Anaknya, Aiyawatt Srivaddhanaprabha, mengambil alih kepemimpinan dan sempat membawa Leicester meraih gelar Piala FA pada 2021. Namun, kebahagiaan itu hanya sesaat.
Sejak 2021, laporan keuangan klub menunjukkan kerugian berturut-turut: 92,5 juta Pounds, 89,7 juta Pounds, 19,4 juta Pounds, dan terakhir 71,1 juta Pounds. Kombinasi beban gaji pemain yang tinggi, kebijakan transfer yang kurang efektif, penurunan bisnis akibat pandemi, serta hilangnya pendapatan utama setelah terdegradasi membuat kondisi keuangan klub semakin memburuk.
Nasib The Foxes di Kasta Ketiga dan Peluang Investor Baru
Leicester terdegradasi pada musim 2022/23, sempat kembali ke Premier League, lalu turun lagi pada 2024/25. Saat bermain di Championship pada 2025/26, klub terkena pengurangan poin akibat melanggar PSR. Hukuman itu memastikan mereka jatuh ke League One untuk musim 2026/27.
Dengan harga jual 222 juta Pounds, calon pembeli akan mendapatkan klub dengan sejarah besar tetapi beban finansial yang berat. Pertanyaannya kini, siapa yang berani mengambil alih warisan dongeng yang berubah menjadi kisah horor ini?