PALEMBANG — Produk domestik regional bruto (PDRB) Sumatera Selatan atas dasar harga berlaku pada triwulan II 2026 mencapai Rp199,05 triliun. Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp105,44 triliun.
Kepala BPS Sumsel Moh Wahyu Yulianto mengatakan, secara kuartal ke kuartal (qtq), ekonomi Sumsel tumbuh 4,51 persen. Angka ini menunjukkan percepatan aktivitas ekonomi dibandingkan triwulan sebelumnya.
Lapangan Usaha dengan Pertumbuhan Tertinggi
Dari 17 sektor lapangan usaha, seluruhnya mencatat pertumbuhan positif. Tiga sektor dengan laju pertumbuhan tertinggi adalah jasa pendidikan yang tumbuh 9,81 persen, diikuti perdagangan sebesar 8,71 persen, serta penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 8,07 persen.
Meski tumbuh tinggi, sektor-sektor tersebut bukanlah penyumbang utama PDRB. Kontribusi terbesar masih dipegang oleh pertambangan dengan pangsa 23,86 persen dan pertumbuhan 1,37 persen.
Industri pengolahan menyumbang 18,56 persen dengan pertumbuhan 5,66 persen. Sektor perdagangan besar dan eceran, serta reparasi mobil dan sepeda motor, memberikan kontribusi 14,56 persen dengan pertumbuhan 8,71 persen.
Konsumsi Rumah Tangga Jadi Motor Penggerak
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga mendominasi dengan kontribusi 60,14 persen dan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 2,83 persen. Sektor pembentukan modal tetap bruto (PMTB) menyumbang 30,59 persen dengan pertumbuhan 5,97 persen.
"Untuk sumber pertumbuhan tertinggi berasal dari sektor perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil, dan sepeda motor yakni sebesar 1,04 persen," jelas Wahyu.
Kondisi berbeda terjadi pada ekspor luar negeri yang berkontribusi 14,20 persen, namun mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 4,45 persen.
Posisi Sumsel di Pulau Sumatera
Kontribusi Sumsel terhadap PDRB Pulau Sumatera mencapai 13,64 persen. Dengan capaian ini, provinsi ini menempati posisi ketiga pertumbuhan ekonomi tertinggi di Pulau Sumatera, di bawah Kepulauan Riau dan Lampung.
Wahyu menambahkan, secara kumulatif tiga sektor utama—pertambangan, industri pengolahan, dan perdagangan—masih memberikan andil positif bagi perekonomian daerah. Kombinasi pertumbuhan dari ketiganya menjadi penopang utama stabilitas ekonomi Sumsel di tengah perlambatan kinerja ekspor.