PALEMBANG — Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel Bambang Pramono mengungkapkan bahwa dari total penyaluran tersebut, pupuk NPK mendominasi dengan jumlah 118.392,83 ton. Disusul pupuk urea sebanyak 80.722,30 ton, pupuk organik 1.185,29 ton, NPK Formula Khusus Kakao 63,75 ton, dan pupuk ZA 111,30 ton.
Berdasarkan data per 13 Juli 2026, Kabupaten OKU Timur mencatat realisasi tertinggi dengan 49.284,09 ton atau 62,65 persen dari alokasi. Disusul Banyuasin sebanyak 44.812,61 ton, OKU Selatan 31.841,90 ton, OKI 25.338,94 ton, dan Musi Rawas 11.657,54 ton.
Di sisi lain, sejumlah daerah mencatat serapan yang masih rendah. Kota Prabumulih misalnya, baru menyalurkan 35,90 ton, disusul Palembang 246,95 ton, Musi Rawas Utara 247,06 ton, dan PALI 458,50 ton. Kota Lubuk Linggau tercatat menyerap 1.730,92 ton.
Untuk mengatasi ketimpangan serapan, Pemprov Sumsel bersama PT Pupuk Indonesia dan PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri) telah menyepakati mekanisme realokasi. Dalam rapat pada 26 Juni 2026, daerah dengan penyerapan di bawah 60 persen akan dialokasikan ulang ke wilayah yang kebutuhannya lebih tinggi.
"Di tingkat provinsi dilakukan realokasi antarkabupaten/kota, sedangkan di dalam kabupaten dilakukan antarkecamatan. Kami juga sudah mengajukan tambahan alokasi dan alhamdulillah sudah disetujui karena ada beberapa provinsi yang serapannya belum optimal sehingga dialokasikan ke Sumatera Selatan," kata Bambang.
Bambang menambahkan, pemerintah provinsi terus berkoordinasi dengan PT Pusri agar stok pupuk tersedia di gudang lini III maupun kios resmi sebelum musim tanam dimulai. Langkah ini untuk mengatasi keluhan petani yang selama ini kerap menerima pupuk setelah masa tanam berjalan.
Tambahan alokasi yang disetujui dari pusat diperkirakan didominasi pupuk NPK. Hal ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan petani pada musim tanam berikutnya, terutama di daerah-daerah yang selama ini mengalami defisit pasokan.