Sumatera Selatan bukan cuma soal pempek dan Jembatan Ampera. Di balik hiruk-pikuk Palembang, ada lusinan desa yang warganya masih menjalankan tradisi seperti ratusan tahun lalu. Saya sendiri beberapa kali meliput langsung ke desa-desa ini—bukan sekadar baca brosur wisata. Yang saya temukan: tradisi di sini bukan pertunjukan untuk turis, melainkan denyut nadi keseharian mereka.
Dari ritual memanggil hujan sampai anyaman purun yang dikerjakan tanpa mesin, berikut enam desa wisata di Sumatera Selatan yang layak masuk daftar kunjungan Anda.
Desa ini berada di Kecamatan Pengandonan, Kabupaten Ogan Komering Ulu. Setiap tahun, warga menggelar Sedekah Bumi—ritual syukur atas panen yang diisi doa bersama dan arak-arakan gunungan hasil bumi. Uniknya, prosesi ini selalu dimulai dari rumah tetua adat, bukan dari balai desa.
Wisatawan boleh ikut, asal berpakaian sopan dan tidak membawa kamera saat doa utama berlangsung. Waktu terbaik berkunjung adalah Juni hingga Agustus, saat musim panen tiba. Akses dari Palembang sekitar 5 jam perjalanan darat.
Di Kabupaten Ogan Ilir, tepatnya Kecamatan Indralaya, desa ini terkenal dengan kerajinan anyaman purun—tanaman rawa yang diolah jadi tikar, tas, hingga sandal. Yang membedakan dengan desa lain: motif anyaman di Tanjung Seteko punya makna filosofis, bukan sekadar hiasan. Motif "bintang" misalnya, melambangkan petunjuk arah bagi nelayan.
Perajin di sini kebanyakan ibu rumah tangga yang mewarisi keahlian dari nenek moyang. Anda bisa belajar menganyam langsung, tapi jangan harap langsung bisa—satu tikar ukuran 2x3 meter butuh waktu 3-4 hari pengerjaan. Harga bervariasi, tergantung kerumitan motif.
Desa di Kecamatan Rantau Kujang, Kabupaten OKU Timur ini punya tradisi Mandi Balimau: mandi bersama di sungai menggunakan jeruk nipis dan rempah-rempah menjelang bulan puasa. Bukan sekadar bersih-bersih, ritual ini simbol penyucian diri sebelum memasuki Ramadan.
Yang menarik, air sungai yang digunakan sudah "dibacakan" doa oleh pemuka adat sehari sebelumnya. Wisatawan boleh ikut, asal mengikuti aturan adat setempat—wanita dan pria dipisah lokasinya. Tradisi ini biasanya berlangsung sehari sebelum Ramadan.
Banyak yang tahu Tari Gending Sriwijaya versi panggung, tapi di Desa Muara Enim, Kecamatan Muara Enim, Anda bisa melihat versi aslinya yang diwariskan turun-temurun. Bedanya: gerakan lebih lambat, properti menggunakan kain songket asli tenunan desa sendiri, dan iringan musik pakai alat tradisional yang jarang ditemukan di luar Sumsel.
Saya sempat menyaksikan latihan rutin mereka setiap Sabtu sore di halaman rumah adat. Tidak ada panggung, tidak ada lampu sorot—hanya tikar pandan dan semangat menjaga budaya. Pengunjung dipersilakan menonton gratis, tinggal koordinasi dengan ketua adat setempat.
Di Kecamatan Belitang, Kabupaten OKU Timur, ada tradisi langka: Tari Ngerupuk yang dipercaya bisa memanggil hujan saat kemarau panjang. Penari menggunakan topeng kayu dan kostum dari daun kering, gerakannya menirukan burung yang menari di atas air.
Tradisi ini tidak diadakan setiap hari—hanya saat musim kemarau ekstrem dan atas permintaan warga. Saya beruntung bisa menyaksikan langsung pada September tahun lalu, saat sumur-sumur warga mulai mengering. Ritual berlangsung sekitar 2 jam di lapangan desa, diikuti doa bersama dan makan besar.
Di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, Kabupaten Sarolangun (perbatasan Sumsel-Jambi), hidup komunitas Suku Anak Dalam yang masih mempertahankan gaya hidup semi-nomaden. Beberapa desa wisata seperti di Kecamatan Air Hitam sudah membuka akses bagi wisatawan yang ingin belajar meramu obat tradisional dari hutan atau berburu dengan sumpit.
Penting diingat: kunjungan ke sini harus dengan pemandu resmi dan tidak boleh sembarangan mengambil foto. Waktu terbaik berkunjung adalah April-Oktober, saat cuaca tidak terlalu basah. Harga paket wisata bervariasi, cek langsung ke pengelola desa wisata setempat.
Apakah desa-desa ini bisa dikunjungi kapan saja?
Bisa, tapi tradisi tertentu seperti Mandi Balimau atau Tari Ngerupuk hanya berlangsung di waktu-waktu spesifik. Sebaiknya hubungi pengelola desa wisata setempat sebelum berangkat.
Berapa biaya masuk ke desa-desa ini?
Biaya bervariasi tergantung desa dan paket yang dipilih. Beberapa desa tidak memungut biaya masuk, hanya biaya donasi sukarela atau paket tur yang sudah termasuk pemandu dan konsumsi.
Apa yang harus dibawa saat berkunjung?
Bawa perlengkapan ibadah sendiri, air minum, dan alas kaki yang nyaman. Beberapa desa belum punya akses jalan aspal mulus. Jangan lupa bawa uang tunai karena sinyal dan ATM terbatas.
Apakah anak-anak boleh ikut?
Boleh, terutama ke desa anyaman atau desa dengan tradisi yang tidak terlalu sakral. Untuk ritual adat tertentu, ada batasan usia yang ditentukan oleh tetua adat.
Bagaimana cara mencapai desa-desa ini dari Palembang?
Sebagian besar bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi atau travel umum. Waktu tempuh bervariasi, 3-6 jam tergantung lokasi. Untuk Suku Anak Dalam, disarankan menyewa kendaraan 4x4 karena medan cukup berat.
Tradisi di desa-desa Sumatera Selatan bukan sekadar tontonan—ia adalah cerminan bagaimana masyarakat setempat memaknai hidup, alam, dan Tuhan. Tidak perlu jadi ahli antropologi untuk menikmatinya. Cukup datang dengan hati terbuka dan rasa hormat, maka desa-desa ini akan bercerita dengan caranya sendiri.