Christian Pulisic Bukan Superman USMNT: Bukti Baru dari Piala Dunia 2026 yang Mengecewakan

Penulis: Faisal Zuber  •  Jumat, 10 Juli 2026 | 02:11:31 WIB
Christian Pulisic mengalami cedera pergelangan kaki saat pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026.

SUMATERA SELATANPiala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat seharusnya menjadi panggung pamungkas bagi Christian Pulisic. Namun, turnamen yang berakhir dengan kekalahan telak 0-3 dari Belgia di babak 16 besar itu justru meninggalkan tanda tanya besar: apakah Pulisic memang layak menyandang status "the guy" di Timnas AS?

Catatan Piala Dunia yang Jauh dari Harapan

Dalam empat pertandingan di Piala Dunia edisi 48 tim ini, Pulisic hanya mencatatkan satu assist. Assist itu ia sumbangkan saat Amerika Serikat menghancurkan Paraguay 4-1 di laga pembuka. Setelah itu, sang penyerang berusia 27 tahun itu kehabisan bahan peledak.

Ia gagal mencetak gol. Masalah cedera pergelangan kaki yang kambuh di babak 16 besar memaksanya ditarik keluar lebih awal. Pulisic kini memiliki rekor satu gol dari delapan laga Piala Dunia — sebuah angka yang timpang untuk pemain yang sejak 2016 dijuluki sebagai wajah sepak bola Amerika.

Wawancara yang Mengungkap Mentalitas Berbeda

Yang paling menarik justru terjadi di luar lapangan. Dalam wawancara dengan Fox Sports usai kekalahan dari Belgia, Pulisic berkata, "Ini frustasi berakhir seperti ini, tetapi sekarang saya punya waktu untuk istirahat. Semoga cedera ini tidak parah."

Respons itu, meski manusiawi, terdengar seperti pemain yang sudah pasrah pada siklus cedera, bukan seorang pemimpin yang marah karena kehilangan kesempatan bersejarah. Keputusannya untuk absen dari Concacaf Gold Cup musim panas lalu semakin memperkuat persepsi bahwa Pulisic tidak secara alami mengambil alih ruang ganti — baik lewat performa maupun kepribadian.

Robin, Bukan Batman: Meniru Model Di Maria

Analisis ini bukan berarti Pulisic pemain buruk. Ia adalah pemain ofensif berbakat yang bisa menciptakan sihir. Hanya saja, ia bukan tipe pemain yang bisa mengangkat level tim sendirian, seperti yang dilakukan Kylian Mbappe untuk Prancis atau Erling Haaland untuk Norwegia.

Sejarah membuktikan bahwa pemain hebat bisa bersinar dalam peran pendamping. Angel Di Maria adalah contoh sempurna. Argentina tidak pernah memintanya menjadi Lionel Messi; mereka hanya butuh dia menjadi mitra yang menghukum lawan yang terlalu fokus pada Messi. Antoine Griezmann juga berfungsi seperti itu untuk Prancis.

Pulisis mungkin perlu peran serupa. Masalahnya, Amerika Serikat belum memiliki "Messi" versi mereka sendiri. Folarin Balogun, yang mencetak tiga gol di Piala Dunia ini, atau Diego Luna, pemain Real Salt Lake yang dicoret dari skuad, bisa menjadi kandidat untuk berbagi beban serangan.

Waktu yang Terus Berjalan

Pada Piala Dunia 2030, Pulisic akan berusia 31 tahun. Mungkin ia masih cukup muda untuk berkontribusi, tetapi cukup tua untuk kehilangan satu atau dua langkah kecepatannya. Jika Amerika Serikat ingin melangkah lebih jauh dari babak 16 besar, mereka tidak bisa lagi bergantung pada satu pemain.

Mungkin saatnya menilai Pulisic dari apa yang benar-benar ia berikan, bukan dari apa yang diharapkan darinya. Ia bukan Batman. Tapi ia bisa menjadi Robin yang sangat baik — jika ada Batman yang tepat di sampingnya.

Reporter: Faisal Zuber
Sumber: fourfourtwo.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top