SUMATERA SELATAN — Lord's gagal mengulang sejarah Wembley dan Twickenham. Jika dua stadion itu menjadi saksi kejayaan Lionesses dan Red Roses, Lord's justru menyaksikan Inggris tampil di bawah performa terbaik mereka di momen paling krusial.
Padahal, turnamen ini diproyeksikan sebagai panggung tim kriket putri Inggris mengikuti jejak kesuksesan dua tim nasional lainnya. Mereka memang mencapai final, tapi langkah terakhir itu jadi batu sandungan.
Kekalahan dari Australia — tim yang haus gelar setelah dua kali gagal di Piala Dunia — bukanlah kejutan. Yang mengkhawatirkan adalah cara dan margin kekalahan Inggris. Pukulan satu dimensi dan lemparan yang longgar menjadi menu utama Inggris di partai puncak.
"Kami harus tampil sempurna untuk mengalahkan Australia," ujar Edwards. Kenyataannya, Inggris tampil jauh dari kata sempurna.
Edwards mengakui situasi ini mengingatkannya pada momen Michael Vaughan sebelum Ashes 2005. Kapten pria Inggris itu memutuskan memulai dari awal karena beban kekalahan sebelumnya. Kini Edwards berada di persimpangan serupa.
Pertanyaan besarnya: apakah kekalahan ini bagian dari proses perkembangan tim yang masih membangun diri setelah kekalahan 16-0 di Ashes musim lalu? Atau justru indikasi masalah yang lebih dalam?
Edwards mengatakan dirinya "bersemangat" bekerja dengan skuad ini selama 12 bulan ke depan. Namun saat didesak lebih lanjut, ia tidak menutup kemungkinan perombakan pemain. "Kami perlu melihat tim. Kami bertahan dengan pemain senior di turnamen ini dan mereka memberi hasil yang baik," kata Edwards.
Meski kalah telak, Inggris menunjukkan kemajuan signifikan. Skuad ini nyaris sama dengan tim yang tersingkir di fase grup T20 World Cup 20 bulan lalu, bahkan yang menderita sapu bersih memalukan di Ashes.
Freya Kemp dan Dani Gibson menambah daya gedor di lini tengah. Alice Capsey bertransformasi dari pemain muda berbakat menjadi batter mapan. Sophie Ecclestone juga mulai menemukan performa terbaiknya. Keraguan soal fielding dan kebugaran mulai teratasi. Kapten Nat Sciver-Brunt tetap tajam meski dua pekan absen karena cedera betis.
Namun, satu posisi menjadi sorotan: wicketkeeper. Amy Jones, 33 tahun, hanya mencetak dua angka dalam 260 pertandingan dan gagal memanfaatkan peran bebas di urutan atas. Tekanan pada posisinya sebenarnya sudah lama datang, tapi minimnya opsi membuatnya tetap bertahan.
Langkah berani yang bisa diambil Edwards adalah mengorbitkan Alice Capsey sebagai wicketkeeper, meski ia tak rutin menjaga gawang sejak level U-17. Langkah itu akan membuka jalan bagi Davina Perrin yang berbakat untuk menjadi opener.
"Kami belum mencapai batas kemampuan," ujar kapten Australia Sophie Molineux dalam konferensi persnya. Pernyataan itu terasa seperti peringatan dini bagi Inggris. Dengan Ashes di depan mata, 12 bulan ke depan akan menjadi ujian sesungguhnya bagi Charlotte Edwards dan skuadnya.