SUMATERA SELATAN — Kabupaten Ciamis di Jawa Barat menyimpan praktik pelestarian lingkungan yang tidak biasa. Aturan adat yang diwariskan turun-temurun justru menjadi benteng pertahanan alam paling efektif, melindungi hutan, sumber air, hingga permukiman warga dari ancaman erosi dan longsor.
Fenomena ini menarik perhatian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sepanjang Senin (24/8/2026), tim peneliti bersama Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Ciamis menyisir sejumlah situs budaya dan tempat keramat untuk mengkaji hubungan antara kearifan lokal dengan kelestarian lingkungan.
Hutan Larangan dan Sumber Air yang Terjaga
Salah satu contoh nyata terlihat di Kampung Adat Kuta. Hutan larangan di sana berdiri kokoh di bawah area permukiman dan berfungsi sebagai penyangga alami bagi warga yang tinggal di atasnya. Kata 'pamali' menjadi hukum tertinggi yang menjaga setiap jengkal tanah.
"Sejak dulu ada hutan larangan dan ada pamali. Secara tidak langsung, itu membentuk pengertian masyarakat bahwa kawasan tersebut harus tetap lestari. Jadi, budaya dan kearifan lokal ikut menjaga ekosistem," ujar Kepala Disbudpora Ciamis, Dian Budiyana.
Pola perlindungan serupa ditemukan di Situs Nagarapageh Raden Undakan Kalang Sari, Kecamatan Panawangan. Kawasan hijau di situs ini berada di elevasi lebih tinggi dari rumah warga, menjadi tumpuan resapan air sekaligus perisai dari ancaman longsor.
"Di Nagarapageh, kawasan situs berada di atas permukiman. Fungsinya sebagai penyangga air dan mencegah erosi maupun bencana lainnya. Sampai sekarang sumber airnya masih ada, alhamdulillah, dan kawasan itu juga tidak boleh ditebang," tuturnya.
Aturan Pamali di Situs Geger Emas
Eksplorasi berlanjut ke Situs Geger Emas di Ciomas, Panjalu. Situs yang telah menyandang status cagar budaya sejak 2022 ini menyimpan aturan adat spesifik: pohon aren atau nira dilarang keras disadap. Bahkan, ketika ada pohon tumbang dimakan usia, warga membiarkannya melapuk secara alami di tanah.
"Di Geger Emas ada cerita pamali. Pohon Nira tidak boleh disadap. Kalau ada pohon yang roboh, masyarakat tidak boleh mengambilnya, tetapi dibiarkan lapuk. Ini juga menjadi bagian dari proses pelestarian," kata Dian.
Kesadaran warga Panjalu pun patut diacungi jempol. Setiap tahun, mereka rutin menanam pohon di luar zona inti situs agar kawasan tersebut semakin rimbun. Semangat ini pula yang melandasi pengusulan Geger Emas sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Jawa Barat.
Persiapan Situs Baru dan Kajian Ilmiah
Perhatian kini bergeser ke arah selatan, tepatnya ke Situs Pangrumasan di Banjarsari. Lokasi ini sedang dipersiapkan untuk ditetapkan sebagai situs resmi pada 2027 mendatang. Kajian ilmiah dari BRIN diharapkan menjadi fondasi kuat bagi status hukumnya nanti.
"Untuk Pangrumasan Banjarsari, kita sedang melakukan kajian sebagai bahan penetapan situs pada 2027. Kerja sama dengan BRIN ini tentu bisa menjadi bahan penguatan kajian secara ilmiah," ujarnya.
Penelitian ini juga menjangkau kawasan Gunung Sawal, Karangkamal, hingga Situs Balaniksa di Bojongmengger. Dian menekankan bahwa pemilihan lokasi ini didasarkan pada posisi geografis yang krusial, seperti di tepian sungai atau lembah yang rawan tergerus zaman dan cuaca.
"Kita memilih beberapa titik, termasuk yang berada di pinggir sungai, lembah dan pegunungan. Jangan sampai situs-situs itu kemudian tergerus erosi. Jadi, pelestarian situs juga harus melihat kondisi lingkungan di sekitarnya," katanya.
Benteng Terkuat adalah Kesadaran Kolektif
Bagi Ciamis yang dijuluki Kota Seribu Situs, riset ini menegaskan bahwa warisan leluhur adalah modal keselamatan masa depan. Hutan yang terjaga di atas bukit bukan sekadar pemandangan hijau, melainkan jaminan ketersediaan oksigen dan air bagi generasi mendatang.
"Banyak manfaat yang bisa kita lihat. Dari sampel yang diteliti, situs-situs di Ciamis ternyata terpelihara dengan baik. Ada situs yang berada di atas permukiman dan menjadi penyangga, sumber mata air tetap terjaga, serta ekosistem di sekitarnya masih dipertahankan," ucap Dian.
Pada akhirnya, benteng terkuat pelestarian ini bukanlah pagar besi, melainkan kesadaran kolektif masyarakatnya. Bagi traveler yang ingin menyaksikan harmoni antara budaya dan alam, situs-situs di Ciamis menawarkan pengalaman wisata yang berbeda—bukan sekadar melihat benda bersejarah, tetapi juga belajar bagaimana sebuah komunitas hidup berdampingan dengan alam selama berabad-abad.