Kemenhut Deteksi 285 Titik Panas Karhutla di Sumsel, Naik Signifikan dalam Sehari

Penulis: Ahmad Syukri  •  Selasa, 22 September 2026 | 10:04:32 WIB
Kementerian Kehutanan mendeteksi 285 titik panas karhutla di Sumatera Selatan hingga Minggu (20/9).

Kementerian Kehutanan melaporkan 285 titik panas kebakaran hutan dan lahan terdeteksi di Sumatera Selatan hingga Minggu (20/9), naik signifikan dibandingkan hari sebelumnya. Peningkatan di Sumsel menjadi perhatian dalam penentuan prioritas operasi penanganan karhutla. Secara nasional, 1.532 titik panas terdeteksi di sejumlah provinsi.

PALEMBANG — Kementerian Kehutanan mencatat lonjakan titik panas high confidence di Sumatera Selatan berdasarkan pemantauan satelit hingga Minggu (20/9) pukul 23.59 WIB. Data SiPongi yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 itu menempatkan Sumsel sebagai wilayah dengan peningkatan cukup signifikan.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi menyatakan pemerintah terus memperkuat upaya penanganan karhutla di wilayah prioritas.

"Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Minggu (20/9) pukul 23.59 WIB, secara nasional terdeteksi 1.532 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence, meningkat 209 titik dibandingkan 1.323 titik pada Sabtu (19/9)," kata Ristianto.

Sebaran Titik Panas di Enam Provinsi Prioritas

Kalimantan Tengah masih memimpin dengan 968 titik panas, meski jumlahnya mulai menurun dibandingkan sehari sebelumnya. Sumsel menyusul di posisi kedua dengan 285 titik panas, disusul Kalimantan Barat 98 titik, Kalimantan Selatan 39 titik, Jambi 26 titik, dan Riau satu titik.

Peningkatan di Sumsel menjadi perhatian tersendiri dalam penentuan prioritas operasi. Provinsi ini sebelumnya tidak tercatat setinggi Kalteng, namun lonjakan harian membuatnya masuk radar penanganan utama.

Hotspot Bukan Ukuran Langsung Luas Kebakaran

Ristianto menegaskan titik panas merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit, bukan gambaran langsung satu kejadian kebakaran.

"Kementerian Kehutanan kembali menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak dapat langsung disamakan dengan satu kejadian kebakaran maupun luas area yang terbakar," katanya.

Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa titik panas sekaligus. Karena itu, seluruh indikasi tetap diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan dan kondisi aktual di lokasi.

64 Pesawat dan 54.394 Personel Dikerahkan

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut pemerintah mengerahkan seluruh kekuatan untuk menangani karhutla. Sejak Agustus 2026, sebanyak 64 pesawat dikerahkan untuk water bombing, didukung 54.394 personel gabungan di lapangan.

"Dari udara hingga darat, seluruh kekuatan terus bergerak. Semua dilakukan untuk memadamkan api, mengurangi dampak asap, dan yang terpenting, melindungi masyarakat dari ancaman karhutla," kata Teddy.

Personel gabungan itu menjangkau titik-titik kebakaran dan mencegah api meluas. Pemerintah menempatkan Kalteng dan Sumsel sebagai dua wilayah yang mendapat perhatian utama dalam operasi penanganan.

Kemenhut memastikan verifikasi lapangan terus dilakukan untuk memastikan setiap indikasi titik panas tertangani sesuai kondisi aktual di masing-masing wilayah.

Reporter: Ahmad Syukri
Sumber: sumsel.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top