SUMATERA SELATAN — Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari-September 2026 mencapai 221,23 miliar dolar AS, tumbuh 5,58 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Lonjakan ini ditopang ekspor nonmigas yang naik 6,30 persen menjadi 212,27 miliar dolar AS, meski migas justru turun 9,11 persen.
Paragraf pembuka: Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan capaian itu dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Senin (2/11/2026). Peningkatan pengiriman barang nonmigas sejalan dengan ekspansi aktivitas manufaktur di sejumlah negara mitra dagang utama Indonesia. Ekspor migas yang menyusut jadi catatan tersendiri di tengah tren positif keseluruhan.
Nonmigas Jadi Motor Pertumbuhan
Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, ekspor nonmigas mencapai 212,27 miliar dolar AS atau naik 6,30 persen. Sementara itu, ekspor migas turun 9,11 persen menjadi 8,96 miliar dolar AS. Selisih kinerja keduanya menjelaskan arah pertumbuhan ekspor Indonesia yang kini lebih bergantung pada produk olahan dan industri pengolahan.
"Sepanjang Januari sampai dengan September tahun 2026 total nilai ekspor mencapai 221,23 miliar dolar AS atau naik 5,58 persen, di mana ekspor nonmigas tercatat naik 6,30 persen menjadi 212,27 miliar dolar AS meski migas turun 9,11 persen ke 8,96 miliar dolar AS," ujar Ateng.
Manufaktur Mitra Dagang Masih Ekspansif
Ateng menjelaskan, kinerja ekspor nonmigas sejalan dengan Purchasing Managers' Index manufaktur mitra dagang utama yang berada di zona ekspansif. Amerika Serikat mencatat PMI 55,9, India 55,1, Jepang 54,1, dan Tiongkok 52,1. Angka di atas 50 menandakan aktivitas manufaktur masih menggeliat, sehingga permintaan terhadap barang Indonesia tetap terjaga.
Empat negara itu memang menjadi pasar utama bagi produk ekspor Indonesia, terutama barang olahan dan komoditas setengah jadi. Selama aktivitas pabrik di sana belum melambat, permintaan diperkirakan bertahan.
Hilirisasi Mineral dan Perkebunan Menopang
Secara sektoral, industri pengolahan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekspor nonmigas. Sejumlah produk hasil hilirisasi mineral dan olahan perkebunan mencatatkan peningkatan penjualan di pasar internasional. Kebijakan hilirisasi yang mendorong pengolahan bahan mentah di dalam negeri tampak mulai memberi hasil pada kinerja ekspor.
Produk olahan perkebunan juga menambah kontribusi, meski BPS tidak merinci besaran masing-masing komoditas dalam laporan ini. Yang jelas, struktur ekspor bergeser makin jauh dari bahan mentah.
Migas Masih Jadi Titik Lemah
Penurunan ekspor migas 9,11 persen menjadi 8,96 miliar dolar AS menjadi sisi lain dari cerita sembilan bulan pertama 2026. Sektor ini konsisten menyusut di tengah kenaikan nonmigas, sehingga bobotnya terhadap total ekspor makin kecil. Kondisi ini memperkuat ketergantungan pertumbuhan ekspor pada industri pengolahan dan produk hilirisasi.
Penutup: Dengan pertumbuhan 5,58 persen, ekspor Indonesia masih berada di jalur positif hingga September 2026. Namun ketergantungan pada nonmigas, terutama produk hilirisasi dan olahan perkebunan, membuat daya tahan ekspor ke depan sangat bergantung pada permintaan mitra dagang utama dan kelanjutan program hilirisasi.