PALEMBANG — Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama TNI Feri Yunaldi menyatakan penyemaian garam dilakukan dengan pesawat angkut milik TNI AU dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Garam dilepas ke langit setelah pesawat menyalakan alat khusus di wilayah terjadinya karhutla.
Kandungan garam bereaksi saat menyentuh awan dan menghasilkan hujan buatan. Feri menyebut upaya serupa telah dijalankan beberapa hari sebelumnya dan terbukti berhasil.
Hujan Turun di Palembang dan Sejumlah Daerah Sumsel
Dampak operasi modifikasi cuaca mulai terasa. Feri menyatakan hujan telah turun di Kota Palembang dan sejumlah daerah lain di Sumatera Selatan dalam beberapa hari terakhir.
"Dalam beberapa hari terakhir, hujan telah turun di Kota Palembang dan sejumlah daerah lainnya di Sumsel," kata Feri dalam keterangan resminya.
Hujan buatan menjadi salah satu cara mempercepat pemadaman titik api yang membakar hutan dan lahan di provinsi itu. Asap karhutla sebelumnya menyelimuti sejumlah wilayah dan mengganggu aktivitas warga.
Pesawat C-130 Hercules dan Dua Armada BNPB Dikerahkan
Operasi penyemaian garam dimulai setelah pesawat lepas landas dari Pangkalan Udara Sri Mulyono Herlambang, Palembang. Pesawat kemudian terbang menuju wilayah karhutla sebelum melepaskan garam ke awan.
"Proses penyemaian dilakukan menggunakan pesawat C-130 Hercules dari Skadron Udara 32 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, serta dua pesawat BNPB," kata Feri.
Pengerahan armada itu menandai operasi modifikasi cuaca berjalan serentak di beberapa titik. TNI AU dan BNPB membagi peran antara pengangkutan garam dan pemantauan wilayah terdampak.
Operasi OMC Dilanjutkan hingga Seluruh Titik Api Padam
Feri memastikan operasi modifikasi cuaca akan terus dilakukan. Targetnya memastikan seluruh titik api yang membakar hutan di Sumatera Selatan padam.
Perpanjangan operasi bergantung pada kondisi awan dan sebaran titik panas di lapangan. Penyemaian garam hanya efektif jika ada awan yang bisa disemai di atas wilayah karhutla.
Warga di daerah terdampak tetap diminta waspada terhadap sisa asap dan potensi titik api baru, terutama di lahan gambut yang mudah terbakar kembali saat kemarau berlanjut.